Pages

Thursday, March 10, 2011

BULAN SABIT adalah simbol DEWA BULAN

Dalam buku karya Zaki Amin yang berjudul Rizqî tahta Zhilli Ramhî dijelaskan tentang latar belakang kalender hijriah mendasari penghitungan pada peredaran rembulan.



Menurut Zaki, sebelum masyarakat Hijaz pra-Islam mengenal konsep Allah, mereka sudah mengenal konsep tuhan-tuhan dari berbagai peradaban yang ada di sekitar wilayah mereka. Dalam pikiran mereka terbersit kehendak untuk menciptakan konsep tuhan dari al-Lâta, Dewa Rembulan bagi masyarakat Syria (Syam). Akan tetapi Dewa ini adalah Dewa Perempuan dan tidak sesuai dengan karakter kejantanan masyarakat Hijaz (Tafsir Ibnu Katsir, hal. 1780). Selain itu, mereka juga tidak ingin “menyakiti” al-Lâta dengan mengubahnya jadi Dewa Laki-laki dan khawatir akan murkanya.


Maka, mereka mengubah (menderivasi) kata al-Lâta (muanats/perempuan) menjadi kata Allah (muzakar/laki-laki). Dengan kata lain, secara linguistik mereka mengubah rembulan dari berstatus perempuan menjadi berstatus laki-laki. Setelah menyepakati kata Allah sebagai Tuhan, mereka memposisikan Allah sebagai Tuhan tertinggi, sementara posisi al-Lâta berada di bawahnya. Tepatnya, al-Lâta diposisikan sebagai salah satu anak perempuan Allah. Dengan demikian mereka merasa telah berhasil mendamaikan antara karakter kejantanan mereka dan ke-perempuan-an al-Lâta, di satu sisi, serta tetap menjaga diri dari murka al-Lâta, di sisi lain.



Selain al-Lâta, mereka menambahkan anak-anak perempuan Allah dari peradaban lain: Uzza, Dewa Kekuatan dari Sinai, dan Manat, Dewa Pembagi Nasib dari Mesir. Terbentuklah konsep Allah, Tuhan Laki-laki, Dewa Rembulan, dalam kesadaran mereka. Selain Allah, mereka juga mengagungkan al-Lâta, Uzza, dan Manat yang menjadi anak-anak perempuan Allah. Tentang tiga anak perempuan Allah ini juga digambarkan oleh Philip K Hitti dalam History of The Arabs, hal. 123.



Selain itu mereka juga menjadikan rembulan (hilâl) sebagai simbol Allah dan bintang (najmah) sebagai simbol Uzza. Keduanya menjadi simbol yang mereka agungkan. Hingga saat ini, negara-negara di wilayah Timur-Tengah menggunakan rembulan dan bintang dalam bendera-bendera mereka. Berdasarkan ketuhanan rembulan inilah mereka menetapkan penghitungan kalender pada rembulan. Mereka juga menentukan berbagai ritual berdasarkan rembulan, baik shalat, puasa, atau haji.



Penghitungan kalender berdasarkan peredaran rembulan ini diteruskan setelah Islam datang dan berkembang di wilayah Arab. Dalam al-Quran ditegaskan, “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Itu adalah petunjuk waktu bagi manusia dan ibadah haji’” (QS. Al-Baqarah: 189). Rembulanlah yang menjadi patokan penghitungan kalender hijriah, bukan matahari. Penjelasan ini cukup menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Wallahu a’lam bi ash-shawâb.



Keterangan ini juga dikutip Muslim Indonesia lainnya di sini:

http://taufikdamas.blogspot.com/2009_12_01_archive.html

Lihat gambar ini:



Dan apa yang terpasang di atas kubah masjid:




BULAN SABIT adalah simbol DEWA BULAN.

Islam memakainya untuk simbol awloh.

Apakah hal itu hanyalah suatu kebetulan saja?

Kalau awloh itu TUHAN SEJATI, tentunya dia tahu bahwa simbol itu adalah simbol MUSUH UTAMANYA.

Kenyataannya awloh disimbolkan dengan BULAN SABIT bukan hanya satu kebetulan saja, tapi ada banyak bukti-bukti lain yang mengarahkan awloh sebagai sosok IBLIS.

http://indonesia.faithfreedom.org/forum/fakta-terungkap-inspirator-muhammad-adalah-setan-t30699/

Dengan alasan apakah sehingga kita harus menutup mata terhadap fakta-fakta itu dan kita tetap menganggap awloh bukan IBLIS?

article ke-3: BULAN SABIT adalah simbol DEWA BULAN yang menyesatkan: hati2 dengan Islam Ditipu Muhamad

No comments:

Post a Comment

School of Life

"The difference between school and life are in SCHOOL, you were taught a lesson, then given a test to test your IQ, but in LIFE you are given the test first that teaches you a lesson. Test in life is one of the measure's faith or belief in God for all people"