Pages

Friday, May 21, 2010

Abu Bakar As Siddiq

DALAM catatan sejarah yang mengcover seluruh peristiwa dunia Islam selalu disandarkan pada masa hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa besar hijrah menjadi tanda permulaan sejarah Islam, kala itu awal mula Allah memberikan kemenangan kepada Rasulullah di tanah suci, satu diantaranya perbuatan makar yang hendak membunuh Rasulullah. Dalam situasi demikian hanya Abu Bakar sendiri yang menemani Rasulullah. Bahkan, hingga sakitnya ketika tak kuat mengimami shalat, Rasulullah minta Abu Bakar menggantikannya.


Abu Bakar adalah muslim pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sejak masuk Islam besar sekali jasanya membantu Rasulullah dalam berdakwah dan membela kaum muslimin. Maka, tak heran jika kemudian kaum muslimin mengangkatnya sebagai pengganti Rasulullah. Dia yang memulai sejarah lahirnya kedaulatan Islam, menyebar ke timur dan barat, India dan Tionghoa di Asia, Maroko dan Andalusia di Afrika dan Eropa.

Menurut biografi Abu Bakar disebutkan bahwa namanya Abdullah bin Abi Quhafah, dan Abi Quhafah ini nama sebenarnya Usman bin Amir, dan ibunya, Ummul-Khair, sebenarnya bernama Salma binti Sakhr bin Amir. Sebelum Islam ia bernama Abdul Ka’bah, Rasul kemudian memanggil Abdullah setelah masuk Islam. Ia bahkan dijuluki Atiq karena warna kulitnya yang putih.

Semasa kecil Abu Bakar hidup seperti umumnya anak-anak di Mekah. Memasuki usia remaja ia berkerja sebagai pedagang pakaian, dari usahanya ini kemudian ia sukses. Kawin di usia muda dengan Qutailah binti Abdul Uzza lalu lahir Abdullah dan Asma’. Kawin lagi dengan Umm Rauman binti Amir bin Uwaimir yang melahirkan Abdur-Rahman dan Aisyah. Di Madinah ia sempat kawin dengan Habibah binti Kharijah, lalu dengan Asma’ binti Umais lahirlah Muhammad. Kian hari usaha dagangnya juga maju dengan pesat.

Kesuksesannya dalam berdagang disebabkan karena pribadi dan wataknya. Putrinya Aisyah Ummulmukminin melukiskan, ayahnya Abu Bakar yang berperawakan kurus, putih, sepasang bahunya kecil, muka lancip, matanya cekung, dahinya agak menonjol dan urat tangan yang tampak jelas. Aisyah menyebutkan bahwa ayahnya tak pernah minum khamr (arak) sejak sebelum masuk Islam maupun sesudahnya. Perangainya begitu damai, lemah lembut dan sikapnya tenang, tak mudah terdorong hawa nafsu. Ia seorang ahli genealogi—ahli silsilah—bicaranya sedap dan pandai bergaul.

Hidup dan tinggal di Mekkah, sekampung dengan Khadijah Binti Khuwailid, tempat para saudagar dalam perjalanan musim dingin dan panas ke Syam dan Yaman. Itulah yang membuat hubungannya dengan Muhammad dekat terutama setelah Muhammad kawin dengan Khadijah. Keakraban keduanya seperti digambarkan Aisyah: “Yang kuketahui kedua orang tuaku sesudah memeluk agama ini, dan setiap kali lewat di depan rumah kami, Rasulullah selalu singgah ke tempat kami , pagi atau sore.”

Sejak hari pertama masuk Islam, Abu Bakar sudah bersama-sama dengan Muhammad melakukan dakwah demi agama Allah. Karena pengaruhnya besar, banyak yang ikut jejaknya menerima Islam. Seperti Usman bin Affan, Abdur-Rahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Sa’d bin Abi Waqqas dan Zubair bin Awwam. Selanjutnya, Abu Ubaidah bin Jarrah dan banyak lainnya dari penduduk Mekkah.

Abu Bakar tak merasa ragu menerima Islam ketika pertama kali disampaikan Muhammad kepadanya. Atas sikapnya itu Rasulullah berkata: “Tak seorangpun yang pernah kuajak memeluk Islam yang tidak tersendat-sendat dengan bergitu berhati-hati dan ragu, kecuali Abu Bakar bin Abi Quhafah. Ia tidak menunggu-nunggu dan tidak ragu ketika kusampaikan kepadanya.”

Padahal Abu Bakar adalah salah seorang pemikir Mekkah yang memandang penyembahan berhala itu suatu kebodohan dan kepalsuan belaka, tapi ketika Muhammad menerangkan tauhid, gua Hira dan wahyu yang diterimanya, ia justru menerimanya tanpa ragu. Tak hanya itu, keberaniannya menerima Islam juga dibuktikan di depan umum.

Dalam menjalankan dakwah tidak hanya dengan kedamaian jiwanya, dengan sifatnya yang lemah lembut, tapi juga dengan hartanya. Cukup diketahui bahwa ketika Abu Bakar masuk Islam hartanya empat puluh ribu dirham lebih yang disimpannya. Selama itu pula ia terus berdagang dan menghasilkan laba yang cukup besar. Sepuluh tahun kemudian setelah hijrah ke Madinah, hartanya tinggal lima dirham. Semua hartanya ternyata habis untuk berdakwah, mengajak orang ke jalan Allah, kekayaannya digunakan untuk menebus orang lemah dan budak yang masuk Islam karena disiksa majikannya.

Suatu ketika Abu Bakar melihat Bilal yang negro itu oleh tuannya dicampakkan ke ladang yang sedang membara oleh panas matahari, dengan menindihkan batu di dadanya lalu dibiarkannya agar ia mati, karena ia masuk Islam. Bilal hanya berkata berulang-ulang: Ahad, Ahad. Ketika itulah ia lalu dibeli Abu Bakar dan dibebaskan. Hal yang sama juga terjadi pada Amir bin Fuhairah.

Kecintaan Abu Bakar kepada Allah dan Rasulullah sangat besar, sehingga ketika Nabi mendapat gangguan dari kaum Kuraisy, ia selalu siap membelanya. Ibnu Hisyam menceritakan, bahwa perlakuan yang paling jahat dilakukan Kuraisy terhadap Rasulullah ialah setelah agama dan dewa-dewa mereka dicela. Yakni ketika berada di Hijr tiba-tiba Rasulullah diserbu dan dikepung, seseorang dari mereka langsung menarik baju Rasul. Abu Bakar sambil menangis menghalanginya sambil berkata: Kamu mau membunuh orang yang mengatakan hanya Allah Tuhanku! Mereka kemudian bubar. Peristiwa itu belum seberapa dibanding dengan peristiwa lain yang memperlihatkan keteguhan iman Abu Bakar kepada Muhammad dan risalahnya.

 Demikian juga sikapnya mengenai isra’, ketika Muhammad berbicara kepada penduduk Mekkah bahwa Allah telah menjalankannya malam hari dari Masjidilharam ke Majidilaqsa lalu bersembahyang di sana. Kisah itu sempat diperolok oleh orang musyrik, malah orang yang sudah Islam pun banyak yang murtad. Mana mungkin? Katanya. Lalu mereka mendatangi Abu Bakar menceritakan ucapan Nabi di masjid, ia membuktikan dengan pergi ke masjid dan mendengarkan Nabi. Usai Nabi melukiskan keadaan Baitulmukadas, Abu Bakar berkata: “Rasulullah, saya percaya”, sejak itu Muhammad memanggilnya dengan “as-Siddiq”.

Sesudah peristiwa isra’ Abu Bakar tetap menjalankan usaha dagangnya, sementara Kuraisy begitu keras mengganggu Nabi dan Abu Bakar serta muslimin lainnya. Ketika kaum muslimin lainnya yang mau tetap bertahan dengan agama mereka Hijrah ke Abisinia, tak terlintas dalam pikiran Abu Bakar unutk ikut bersama. Malah ia tetap tinggal di Mekkah bersama Muhammad, berjuang mati-matian demi dakwah di jalan Allah sambil belajar segala yang diwahyukan Allah kepada Nabi untuk disiarkan kepada umat manusia.

Islam kemudian mendapat kemenangan dengan kekuatan penduduk Yasrib (Medinah) sesudah ikrar Aqabah, Muhammad pun mengizinkan sahabat-sahabatnya hijrah ke kota itu. Orang-orang Kuraisy tidak tahu, Muhammad ikut hijrah atau tetap tinggal di Mekkah seperti tetkala kaum muslimin hijrah ke Abisinia. Abu Bakar lalu meminta izin kepada Muhammad akan pergi hijrah, dan dijawab: “Jangan tergesa-gesa, kalau-kalau Allah nanti memberikan seorang teman kepadamu.”

Sejak kaum muslimin pindah ke Yasrib, Abu Bakar tahu kalau kaum Kuraisy memaksa mereka dikembalikan ke Mekkah. Mereka kemudian dipaksa pindah agama, disiksa dan dianiaya. Abu Bakar mengetahui orang-orang musyrik itu berkumpul di Darun-Nadwah, berkomplot hendak membunuh Muhammad. Kalau ia menemani Muhammad dalam hijrahnya itu lalu Kuraisy bertindak membunuh Muhammad, maka Abu Bakar juga dibunuhnya. Sungguh pun begitu, ketika ia diminta Muhammad menunda, ia pun tak ragu.

Sejak itu Abu Bakar telah menyiapkan dua ekor unta sambil menunggu perkembangan. Siang itu ia di rumah tiba-tiba datang Muhammad, ia memberitahukan bahwa Allah mengizinkan hijrah ke Yasrib. Abu Bakar minta izin untuk bisa menemaninya, permintaannya dikabulkan.

Khawatir Muhammad akan melarikan diri sesudah kembali ke rumahnya, pemuda-pemuda Kuraisy segera mengepungnya. Muhammad membisikkan kepada Ali bin Abi Thalib supaya ia mengenakan mantel Hadramautnya yang hijau dan berbaring di tempat tidurnya, Ali pun melakukannya. Lewat tengah malam dengan tidak setahu pemuda-pemuda Kuraisy ia keluar pergi ke rumah Abu Bakar. Ternyata ia memang sedang jaga menunggunya. Keduanya lalu keluar dari celah pintu belakang dan bertolak kea rah selatan menuju Gua Saur, di dalam gua itulah keduanya bersembunyi.

Mereka segera bergegas ke setiap lembah dan gunung mencari Muhammad untuk dibunuh. Sampai di Gua Saur salah seorang dari mereka naik ke atas gua untuk mencari jejaknya. Konon saat itu Abu Bakar sudah mandi keringat ketika terdengar mereka memanggil-manggil. Ia menahan nafas, tidak bergerak dan hanya menyerahkan nasib kepada Allah. Ketika dalam kegalauan, Muhammad berbisik di telinganya: La Tahzan Innallaha Manganaa “Jangan bersedh hati. Tuhan bersama kita.”

Para pemuda itu melihat ke sekeliling gua yang dilihat cuma laba-laba di mulut gua itu. Lalu mereka tak jadi masuk gua, terus kembali ke tempat teman-temannya. Setelah mereka menjauh Muhammad berseru, “Alhamdulillah, Allahu Akbar!”. Apa penyebab ketakutan Abu Bakar ketika dalam gua? Ternyata ia sudah tidak memikirkan dirinya lagi tapi yang dipikirkannya hanyalah Rasulullah.

Selama berada di Medinah, Abu Bakar tinggal di Sunh pinggiran kota pada keluarga Kharijah bin Zaid dari Banu al-Haris dari suku Khazraj. Ketika Nabi mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Ansar, Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah lalu disusul keluarganya dan anaknya yang tinggal di Mekkah. Lambat laun hubungannya makin akrab, lalu Abu Bakar kawin dengan putrinya, Habibah yang melahirkan Umm Kulsum. Keluarga Abu Bakar tidak tinggal bersamanya di rumah Kharijah bin Zaid di Sunh, tetapi Umm Ruman dan putrinya Aisyah serta lainnya tinggal di Medinah, rumahnya berdekatan dengan Abu Ayyub al-Ansari tempat Nabi tinggal.


Keimanan yang tulus menguasai Abu Bakar, menyebabkan ia sangat setia terhadap Rasulullah. Semua yang dilakukan Rasulullah ia pun turut melakukan. Terhitung sejak hijrah ke Medinah banyak peristiwa yang diikutinya; perang Badr, perang Uhud, sikapnya di Hudaibiyah dan seterusnya.

rujukan

Saidina Abu Bakar As-Siddiq
Dirapek oleh Ibn Mohamed Amin at 1/13/2008 09:54:00 PM . Sunday, January 13, 2008

Saidina Abu Bakr atau nama sebenarnya Abdullah bin Quhaffah merupakan sahabat Nabi s.a.w yang paling rapat dan paling disayangi. Ini bersesuaian dengan sabda Nabi s.a.w " Perempuan yang paling ku cintai adalah Aisyah r.a manakala lelaki yang paling kucintai adalah bapanya". Keperibadianya yang begitu mulia, ditambah dengan kemurahan hati serta kebijaksanaanya menyebabkan beliau telah dicalunkan sebagai Khalifah pertama selepas kewafatan junjugan besar Rasulullah s.a.w.


Beliau merupakan seorang tokoh perniagaan yang kaya dan datang dari keluarga bangsawan yang dihormati oleh masyarakat Arab Quraisy. Beliau dari segi umur adalah dua tahun lebih muda daripada Nabi s.a.w . Beliau tidak pernah minum arak. Pengorbanannya yang begitu besar begitu dihargai oleh Rasulullah s.a.w dengan sabdanya " Islam tertegak diatas harta Khadijah r.a dan pengorbanan Saidina Abu bakr r.a".

Beliau merupakan orang ketiga memerluk Islam selepas Saidina Ali Karramallahuwajhah dan Zaid bin Harithah, hamba kepunyaan Nabi pada masa itu. Selepas keislamanya, dia terus berda'wah dan dapat mengislamkan beberapa orang sahabat yang agung (As-Sabiqun Awwalun) termasuk Uthman bin Affan, Abdul Rahman Auf, Zubir AiAwwam Saad bin Waqqas dan ramai lagi. Semasa beliau membeli Bilal Bin Rabah yang telah diseksa oleh tuannya ,beliau telah ditanya mengapa beliau membeli bilal yang sudah tidak dapat bekerja berat akibat seksaan itu. Beliau menyawab " aku membeli jiwanya ". yakni keteguhan Bilal mempertahankan keEsaan Allah. Perbagai cabaran gentir dan siksaan yang pernah beliau hadapi dalam menegakkan agama Allah. Beliau pernah dipukul dan dipijak sehingga dapat dikenali cuma melali hidungnya,kerana teruknya luka yang dialaminya. Tentang keimanannya yang begitu mantap, pernah Rasulullah s.a.w bersabda " Jika ditimbang iman Saidina Abu Bakr dengan sekelian ummat, nescaya berat lagi iman Saidina Abu Bakr" .

Gelaran As-Siddiq diperolehi beliau lantaran sikapnya yang senantiasa membenarkan kata Nabi s.a.w . Mengenai gelaran ini pernah ada ulama' yang mentafsirkannya dengan bermaksud " Mempercayai Allah dan Rasulnya dengan berpegang pada sifat-sifat kesempurnaan Allah dan sifat-sifat kemulian Rasulnya mengatasi akal fikiran semata-mata ". Pernah Nabi s.a.w bersabda " Andainya sekelian manusia akan mendustakan Muhammad s.a.w , Saidina Abu Bakr lah yang akan tampil dengan penuh keyakinan untuk membela ku ". Antara peristiwa dan pengiktirafan oleh sahabat yang membenarkan gelaran ini :-

1.Semasa peristiwa Isra' dan mi'raj di mana peristiwa yang luar biasa ini tidak dipercayai oleh seluruh masyarakat jahiliyah dan mereka telah datang menemui saidina Abu Bakr. Tetapi Saidina Abu Bakr telah berkata " sekiranya Muhammad s.a.w yang memberitahu ini maka aku percaya, malah lebih dari itu lagipun aku mempercayai ".

2.Rasulullah s.a.w pernah bersabda " Tidaklah aku menyeru sesiapa pun kepada Islam melainkan dia teragak-agak dan melewatkannya kecuali Saidina Abu Bakr".

3.Saidina Umar r.a bertanya pada Saidina Abu Bakr selepas termetrinya perjanjian Hudaibiyah " Wahai Abu Bakr bukankah dia Rasulullah ?. Abu Bakr menjawab " Ya " . Umar r.a bertanya lagi " Bukankah kita ini orang-orang Islam ?. " Ya " , jawab Abu Bakr. Lalu umar bertanya lagi " Kalau begitu mengapa kita menerima cara yang hina ini ?. Bila ditanya oleh Saidina Umar soalan yang sama maka Rasulullah bersabda " Aku ini hamba Allah dan rasulnya ; aku tidak akan sekali-kali menyalahi perintahnya dan aku tidak sekali-kali dipersia-siakan" . Pada masa ini kebanyakan sahabat tidak bersetuju dengan perjanjian Hudaibiyah di mana mereka tidak dibenarkan menunaikan ibadab haji pada tahun itu,sehingga mereka tidak menyembelih binatang dan bersuci setelah disuruh oleh Nabi sebanyak tiga kali, kerana begitu kasih dan sayang pada Rasulullah . Lalu Rasulullah menerima cadangan yang bernas daripada Ummu Mu'minin, Ummu salamah supaya Rasulullah meneruskan sahaja penyembelihan itu seolah-olah wahyu dari Allah dan ini telah dikuti oleh para sahabat.

4.Aqalah bin Mu'it la'natullah pernah menjerut leher Rasulullah SAW tetapi telah dilihat oleh Saidina Abu Bakar yang segera menghalangnya lalu berkata, "Adakah kamu mahu membunuh seorang yang berkata Tuhanku adalah Allah?".

5.Saidina Abu Bakar juga telah meneruskan tindakan Rasulullah SAW sebelum kewafatannya menghantar tentera yang dipimpin oleh Usamah keluar berperang walaupun tidak dipersetujui oleh para sahabat kerana perlunya tindakan untuk mengatasi gejala murtad selepas kewafatan Nabi SAW kerana terdapat orang Islam yang tidak ingin membayar zakat atau membayar dengan tidak sempurna. Khalifah Abu Bakar telah melantik Khalid Aw-Walid untuk mengetuai kumpulan memerangi orang-orang yang murtad ini.

6.Saidina Umar pernah berkata " Sesungguhnya di dalam syurga Adnin terdapat sebuah mahligai . Ia mempunyai 500 pintu. Setiap pintu ada 5000 bidadari : tidak akan masuk kedalamnya melainkan Nabi-nabi sambil menoleh ke arah maqam Nabi s.a.w atau orang-orang yang benar, sambil memandang ke arah maqam Saidina Abu Bakr, atau orang yang syahid sambil menunjuk ke arah dirinya dengan mengaharapkan dia memperolehi syahid".

7.saidina Uthman Affan pernah mengatakan bahawa Saidina Abu Bakr layak mengantikan nabi s.a.w kerana dia As-Siddiq dan menjadi Imam solat sewaktu Rasulullah s.a.w uzur.

Saidina Abu Bakr telah diberi penghormatan untuk menemani Nabi s.a.w untuk berhijrah,beliau begitu gembira sekali mendengarnya sehinggakan Syaidatina Aisyah r.a mengatakan bahawa beliau tidak pernah melihat bapanya begitu gembira sekali melaikan pada hari itu. Dalam keadaan yang penuh gelisah di gua Thur , Allah telah menurunkan ayatnya menceritakan peristiwa ini didalam surah at-Taubah. saidina Abu Bakr telah berkata " Yang saya bimbangkan bukanlah mengenai diri saya sendiri, kalau saya terbunuh yang tewas hanyalah seorang manusia biasa. Tapi andaikata Tuan sendiri dapat dibunuh, maka hancurlah satu cita-cita yang murni. yang akan runtuh ialah keadilan dan yang akan tertegak adalah kezaliman" . Begitulah cintanya saidina Abu Bakr kepada Rasulellah s.a.w. saidina Abu Bakr begitu sedih mendegar munajat Nabi s.a.w semasa perang Badar yang begitu mengharapkan kemenagan keatas tentera Islam lalu Beliau berkata " cukuplah Ya Rasulullah".

Semasa dalam satu khutbah Rasulullah s.a.w ada menyebut bahawa kepada seseorang hamba Allah ditawarkan untuk memilih dunia dan memilih ganjaran yang disediakan oleh Allah ; dan hamba tersebut tidak akan memilih dunia melaikan memilih apa yang di sisi Allah. Mendengarnya, menangislah tersedu-sedu saidina Abu Bakr kerana beliau faham akan maksud khutbah itu, yakni umur Rasulullah di dunia sudah hampir berakhir.

Saidina Ali penah mengatakan bahawa saidina abu Bakrlah sahabat Nabi s.a.w yang paling berani kerana sangup melindungi Nabi s.a.w untuk menghadapi perang Badar di saat para sahabat yang lain berdiam diri bila Nabi s.a.w mengacukan soalan itu. saidina Abu Bakr telah menyertai hampir semua Ghazwah yang disertai oleh nabi s.a.w. Beliau juga merupakan sahabat yang paling banyak mengeluarkan hartanya untuk Islam. Sewaktu perang Tabuk beliau telah membawa 4000 dirham iaitu semua hartanya yang tinggal. Lalu ditanya oleh Rasulullah "apakah yang ditinggalkan untuk keluarga mu "lalu beliau menjawab, "Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasulnya ". saidina Umar pernah berkata " Tidak kami berlumba-lumba dalam membuat kebaikan melaikan dia saidina Abu Bakr pasti akan mendahuluiku".

Saidina Umar juga pernah berkata " Suatu malam dan satu hari saidina Abu Bakr lebih baik daripada Umar dan keluarganya". Satu malam semasa Hijrah bersama Nabi s.a.w manakala satu hari adalah di hari kewafatan Rasulullah s.a.w diaman saidina Abu Bakr dengan tenang tetapi tegas mengahadapi saat getir itu, ditambah dengan gejala murtad yang melandai sebahagian umat Islam pada masa itu. Beliau berkata " Wahai kaum muslimin, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati, Tetapi barang siapa menyembah Allah,maka Allah selama-lamanya hidup tidak mati" seraya menyambung lagi dengan ayat Al-Quran, surah Ali-Imran :144

" Muhammad itu tidak lebih dari seorang rasul seperti Rasul-rasul yang terdahulu darinya, Jika ia mati atau terbunuh, patutkah kamu berundur kebelakang. Sesiapa yang surut kebelakang , dia tidak membahayai Allah sedikit pun dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur." Ali-Imran 144.

( Ayat ini turun semasa perang Uhud di mana tersebar fitnah bahawa Rasulullah telah terbunuh. menyebabkan tentera Islam hampir putus asa).

Setelah dialantik menjadi Khaifah Rasulullah ( atas cadangan saidina Umar r.a dengan dipersetujui oleh sahabat) beliau telah memberi satu ucapan yang mahsyur, antaranya : " Wahai sekelian umat ! aku telah dipilih menjadi peminpin kamu padahal aku ini bukanlah orang yang terbaik diantara kamu. Sebab itu jika pemerintahan ku baik, maka sokonglah ; tetapi jika ianya tidak baik perbaikilah. orang yang lemah diantara kamu adalah kuat disisiku hingga aku harus menolongnya mendapatkan haknya, sedang orang yang kuat diantara kamu adalah lemah disisiku hingga aku harus mengambil hak orang lain padanya untuk dikembalikan kepada yang berhak semula. Patuhilah aku selama aku patuh kepada Allah dan RasulNya. Akan tetapi jika aku menderhakai Allah, maka kamu sekelian tidak harus lagi patuh kepada ku".

Saidina Abu Bakr hidup seperti rakyat biasa dan tidak suka didewa-dewakan. Pernah orang memangilnya" ya Khalifah Allah" lalu dijawabnya " Saya bukan Khalifah Allah, saya hanyalah Khalifah Rasulnya"Sehari selepas dilantik, saidina Abu Bakr telah pergi kepasar dengan membawa barang perniagaannya, lalu ditegur oleh Abu Ubaidah Ibnu Jarrah, " Urusan Khalifah tidak boleh dicampuru dengan perniagaan". Lalu Khalifah bertanya "Habis,apa yang harus saya berikan pada keluarga saya?". Semenjak hari itu Kahlifah mendapat peruntukan wang daripada Baitul-mal dan saidina Abu Bakr pun menghentikan perniagaannya untuk menumpukan kerja sebagaiseorang Khalifah. Namun tidak berapa lama sebelum beliau meninggal dunia, beliau telah mengembalikan semula wang Baitul-mal kerana berpendapat bahawa tenaga yang dicurahkanya tidak sepadan dengan duit Baitu-mal yang diperolehi itu dengan sebab-sebab keuzurannya.

Saidina Abu Bakr mengalakan sahabat-sahabat keluar berjihat, dengan menyebarkan ajaran Islam ke tempat-tempat baru. Beliau mengarahkan wakilnya menawarkan tiga pekara kepada pemerintah disitu, iaitu samaada memilih Islam, tunduk kepada pemerintahan Islam dengan membayar Jizyah( sekiranya tidak mahu menganut Islam ) atau perang ( sekiranya menulak kedua-dua pilihan yang diberi itu). Di zaman Khalifah Umar r.a beliau yang lebih keras memberi tempuh selama tiga hari untuk memilih sama ada Islam ataupun berperang.

Sebelum meninggal dunia, selepas hampir dua setengah tahun menjadi Khalifah beliau telah berpesan kepada saidina Umar : "Janganlah hendaknya sesuatu bencana walau bagaimana besar pun dapat melupakan kamu dari urusan agama dan wasiat Allah. Engkau telah melihat apa yang aku lakukan tatkala Rasulullah wafat, sedang wafatnya Rasulullah itu adalah satu bencana yang belum penah manuasia ditimpa bencana sebesar itu. Demi Allah, andaikata diwaktu itu aku melalaikan perintah Allah dan Rasulnya , tentu kita telah jatuh dan mendapat siksaan Allah, dan pasti pula Kota Madinah itu telah menjadi lautan api ".

Saidiana Abu Bakr meninggal dunia ketika berumur 63 tahun dengan menyediakan tiang-tiang pokok dari kekuatan Islam yang memudahkan lagi kerja-kerja penyebaran da'wah oleh Khalifah seterusnya iaitu Khalifah Umar Al-Khattab, yang mana sebahagian Syam dan Iraq telah berada dibawah pemerintahan Islam ketika hayat beliau.

Rujukan :-

1 . Fiqh Al-Harakah 1 & 2 - Tuan Guru Ustaz Haji Abdul Hadi Awang
2 . Hayatus-Sahabah 1,2,3 dan 4 - Syeikh Myuhamad Yusuf Al- Kardahlawi.
3 . Tokoh-tokoh Islam dulu dan sekarang edisi 5 - H. Luqman Hakim
4 . Al - Quran , Tafsir Usmani - Allama Shabbir Ahmad Usmani.

rujukan
petikan dari: multiply

No comments:

Post a Comment

School of Life

"The difference between school and life are in SCHOOL, you were taught a lesson, then given a test to test your IQ, but in LIFE you are given the test first that teaches you a lesson. Test in life is one of the measure's faith or belief in God for all people"