Pages

Tuesday, April 20, 2010

Akan Datang Penghuni Surga

Di suatu hari Nabi sedang duduk di Masjid bersama para sahabatnya. Tiba-tiba Nabi berseru, "akan datang penghuni surga."

Serentak para sahabat memandang ke arah pintu.
Ternyata datanglah seorang sahabat yang memberi salam pada mejelis Nabi lalu shalat.

Keesokan harinya lagi, pada sitausi yang sama, Rasul berseru,
"Akan datang penghuni surga." Tiba-tiba hadir dari arah pintu sahabat yang kemaren juga digelari Rasul penghuni surga.

Selepas bubarnya mejelis Nabi, seorang sahabat mengejar "penghuni surga" tersebut. Ia berkata, "maafkan saya wahai saudaraku. Aku bertengkar dengan keluargaku bolehkah aku
barang satu-dua hari menginap di rumahmu?"

"Penghuni surga" ini lalu berkata, "baiklah..." Satu hari berlalu, dua hari berlalu dan tiga hari pun berlalu. Akhirnya sahabat ini tak tahan dan berkata pada "penghuni surga". "Wahai saudaraku sebenarnya aku telah berbohon padamu. Aku tak bertengkar dengan keluargaku.

Aku bermalam di rumahmu untuk melihat apa amalanmu karena aku mendengar rasul menyebutmu penghuni surga. Tapi setelah aku perhatikan amalan mu sama dengan apa yang aku kerjakan. Aku jadi tak mengerti..."

"Penghuni surga" itu menjawab, "maafkan aku, memang inilah aku! Ibadah yang aku jalankan tidak kurang- tidak lebih sebagaimana yang engkau saksikan selama tiga hari ini. Aku tak tahu mengapa Rasul menyebutku "penghuni surga".

Sahabat itu lalu pergi meninggalkan "penghuni surga". Tiba-tiba "penghuni surga" itu memanggil sahabat tersebut. "Saudaraku, aku jadi teringat sesuatu. Aku tak pernah dengki pada sesama muslim.
Mungkin ini......"

Sahabat tersebut langsung berseru, "ini dia yang membedakan engkau dengan kami. Ini dia rahasianya mengapa Rasul menyebutmu penghuni surga. Ini yang tak dapat kami lakukan."

Ternyata, soal dengki ini bukan persoalan sepele. Ada seorang tukang sate di tempat saya. Alhamdulillah satenya yang memang empuk itu laris bukan main. Tetangganya mulai mencibir dan menuduh si Tukang sate memelihara tuyul. Ketika anak si Tukang Sate kecelakaan, lagi-lagi tetangganya mencibir, "rasakan! itulah tumbal akibat main tuyul!"

Lihatlah kita. Apakah kita bertingkah laku persis tetangga Tukang Sate tersebut? Kita tak rela kalau saudara kita memiliki nilai "lebih" di mata kita. Repotnya, rumput tetangga itu biasanya terlihat lebih "hijau" dibanding rumput kita. Kita dengki dengan keberhasilan saudara kita.

Ada seorang wanita karir yang berhasil. Karena beban kerjanya dia sering kerja lembur sampai baru pulang saat larut malam. Tetangganya menuduh ia wanita jalang. Ketika dari hasil jerih payahnya ia mampu membeli mobil, tetangganya ribut lagi, kali ini ia disebut "simpanan seorang bos".

Masya Allah! Bukannya belajar dari keberhasilan saudara kita tersebut, kita malah mencibir dan menuduhnya yang bukan-bukan.

Dengki adalah persoalan hati. Dari dengki biasanya lahir buruk sangka, kemudian dari buruk sangka biasanya lahir fitnah dan tuduhan, untuk menyebarkan fitnah ini kita
bergosip kemana-mana sambil menggunjingkan perilaku orang tersebut.

Lihatlah, bermula dari dengki kemudian menyusul perbuatan dosa yang lain!

Sulit sekali menghilangkan rasa dengki tersebut. Untuk itu marilah kita minta perlindungan-Nya:

"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan KEDENGKIAN dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
(QS 59:10)

RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Wednesday, April 7, 2010

Ada Sebuah Kisah Tentang Penciptaan Pria & Wanita

sekadar renungan yg ingin dkongsi bersama..

Pada saat Sang Pencipta telah selesai menciptakan pria. Ia baru menyadari bahwa Ia juga harus menciptakan wanita. Padahal semua bahan untuk menciptakan manusia sudah habis dipakai untuk menciptakan pria. Kemudian Sang Pencipta merenung sejenak, dan kemudian Ia mengambil lingkaran bulan purnama, kelenturan ranting pohon anggur, goyang rumput yang tertiup angin, mekarnya bunga, kelangsingan dari buluh galah, sinar dari matahari, tetes embun dan tiupan angin. Ia juga mengambil rasa takut dari kelinci dan rasa sombong dari merak, kelembutan dari dada burung dan kekerasan dari intan, rasa manis dari madu dan kekejaman dari harimau, panas dari api dan dingin dari salju, keaktifan bicara dari burung kutilang dan nyanyian dari burung bul-bul, kepalsuan dari burung bangau dan kesetiaan dari induk singa.

Dengan mencampurkannya bahan semua itu, maka Sang Pencipta membentuk wanita dan memberikannya kepada pria. Pria itu merasa senang sekali karena hidupnya tidak merana dan kesepian seorang diri.

Setelah satu minggu, pria itu datang kepada Tuhan, katanya: ‘Tuhan, ciptaan-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku membuat hidupku tidak bahagia. Ia bicara tiada henti sehingga aku tidak dapat beristirahat. Ia minta selalu untuk diperhatikan. Ia mudah menangis karena hal-hal sepele. Aku datang untuk mengembalikan wanita itu kepada-Mu, karena aku tidak bisa hidup dengannya’.

‘Baiklah’, kata Sang Pencipta. Dan Ia mengambilnya kembali. Beberapa minggu kemudian, pria itu datang lagi kepada Tuhan, dan berkata, ‘Tuhan, sejak aku memberikan kembali wanita ciptaan-Mu, kini aku merana kesepian. Tiada lagi yang memperhatikanku, tiada lagi yang menyayangiku. Aku selalu memikirkan dia, ke mana pun aku pergi, aku selalu ingat dia. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Aku rindu kepadanya. Di kala aku sendirian, kubayangkan wajahnya yang cantik, kubayangkan bagaimana ia menari dan menyanyi. Bagaimana ia melirik aku. Bagaimana ia bercakap-cakap dan manja kepadaku. Ia sangat cantik untuk dipandang, dan sedemikian lembut untuk disentuh. Aku suka akan senyumannya. Tuhan, kembalikan lagi wanita itu kepadaku!’.

Sang Pencipta berkata, ‘Baiklah’. Ia memberikan wanita itu kembali kepadanya. Tetapi, tiga hari kemudian pria itu datang lagi kepada Tuhan dan berkata, ‘Tuhan, aku tidak mengerti. Mengapa dia memberikan lebih banyak lagi kesusahan dari pada kegembiraan. Dia semakin menyebalkan. Aku tidak tahan lagi dengan sikap dan tingkah lakunya. Aku berdoa kepada-Mu. Ambillah kembali wanita itu. Aku tidak dapat lagi hidup dengannya’.

Sang Pencipta balik bertanya, ‘Kamu tidak dapat hidup lagi dengannya?’. Pria itu tertunduk malu, ia merasa putus asa. Dalam hatinya ia berkata, ‘Apa yang harus aku perbuat? Aku tidak dapat hidup dengannya, tetapi aku juga tidak dapat hidup tanpa dia. Tuhan, ajarilah aku untuk mengerti apa arti hidup ini?’.

‘Belajarlah untuk memahami perbedaan dan belajarlah untuk berani menerima perbedaan dalam hidupmu! Pahamilah dan usahakanlah apa yang menjadi kebutuhan mendasar dari pasangan hidupmu!’, jawab Tuhan. Dan inilah enam kebutuhan mendasar pria dan wanita:

1. Wanita membutuhkan perhatian, dan pria membutuhkan kepercayaan.

2. Wanita membutuhkan pengertian, dan pria membutuhkan penerimaan.

3. Wanita membutuhkan rasa hormat, dan pria membutuhkan penghargaan.

4. Wanita membutuhkan kesetiaan, dan pria membutuhkan kekaguman.

5. Wanita membutuhkan penegasan, dan pria membutuhkan persetujuan.

6. Wanita membutuhkan jaminan, dan pria membutuhkan dorongan.

read more

Friday, March 19, 2010

Perempuan Tidak Berasal Daripada Tulang Rusuk

Kita sering mendengar cerita bahawa Hawa diciptakan daripada tulang rusuk Adam. Sehingga terdapat ungkapan yang mengatakan wanita dijadikan daripada tulang rusuk supaya yang dekat dengan hati dan supaya sering didampingi serta diingati dan bermacam-macam lagi. Begitu juga, hampir semua kitab-kitab tafsir menyebutkan kisah penciptaan Hawa dan menjadi asas kepada ulama tafsir ketika menjelaskan maksud ayat pertama surah al-Nisa’. (Sila lihat Tafsir at-Tabari, Tafsir al-Baidhawi, al-Kahzin dan lain-lain)

Kenyataannya ialah tidak ada satupun ayat al-Quran dan Hadis Rasulullah s.a.w. yang jelas menyebutkan hakikat kejadian Hawa. Al-Quran tidak menyebutkan Hawa dicipta daripada Adam tetapi manusia itu dicipta daripada jiwa yang satu. Apa yang disebutkan di dalam al-Quran ialah manusia itu diciptakan daripada jenis yang sama dengannya juga. Seorang manusia tentunya ibu bapanya manusia juga bukan makhluk yang lain.

Abu A`la al-Mawdudi menulis komentar bagi ayat pertama surah al-Nisa’ ini: “Umumnya para pentafsir al-Quran menyebutkan Hawa dicipta daripada tulang rusuk Adam dan Bible juga menyebutkan perkara yang sama. Kitab Talmud pula menambah bahawa Hawa diciptakan daripada tulung rusuk Adam yang ketiga belas. Tetapi al-Quran tidak menyentuh langsung perkara ini dan hadis-hadis yang dipetik untuk menyokong pandangan ini mempunyai makna yang berbeza dari yang sering difahami. Oleh itu, perkara yang terbaik ialah membiarkan perkara yang tidak dijelaskan seperti yang terdapat dalam al-Quran dan tidak perlu membuang masa bagi menentukan perinciannya.” ( The Meaning of The Quran, jil. 2 hal. 94)

Menurut al-Mawdudi, hadis-hadis Rasulullah s.a.w. tidak menyatakan perkara yang sebagaimana yang tersebar dalam masyarakat Islam iaitu sebenarnya tidak ada satupun hadis baginda s.a.w yang menerangkan asal- usul kejadian Hawa.

Kaedah yang sebenar ialah tidak perlu memberatkan diri dalam menentukan perkara yang Allah s.w.t. tidak menyatakan dengan terang dan jelas. Contohnya, apabila Allah s.w.t. menyebutkan cerita tentang bahtera Nabi Nuh tidak perlu bagi kita untuk menentukan apakah saiz dan kapasitinya atau bahan buatannya. Perincian itu bukan menjadi maksud penurunan al-Quran. Apa yang penting ialah menjadikan peristiwa tersebut sebagai iktibar dab pengajaran. Dengan kata lain, al-Quran bukan kitab sejarah atau sains tetapi kitab yang memberi panduan hidup kepada manusia supaya selamat di dunia dan akhirat.

Dalam hal ini Shah Waliyullah menyebutkan dengan jelasnya. Kata beliau ketika mengulas kisah-kisah yang diceritakan oleh al-Quran: “Bukanlah maksud cerita-cerita di dalam al-Quran untuk mengetahui cerita itu sendiri. Maksud sebenarnya ialah supaya pembaca memikirkan betapa bahayanya syirik dan kemaksiatan serta hukuman Allah hasil dari perbuatan syirik itu di samping menenangkan hati orang-orang yang ikhlas dengan tibanya pertolongan dan perhatian Allah kepada mereka” (al-`Fawz al-Kabir Fi Usul al-Tafsir, hal. 138)

Mengapa Berlaku Kekeliruan Tentang Kejadian Hawa Ini?

Ada beberapa faktor mengapa berlaku kekeliruan dalam memahami makna sebenar ayat ini:

1. Berpegang Dengan Riwayat Israiliyyat

Fasal yang kedua di dalam Sifr al-Takwin menyebutkan Hawa diciptakan daripada tulang rusuk kiri Nabi Adam ketika baginda sedang tidur. (Tafsir al-Manar, jil. 4, hal. 268.) Disebabkan ada riwayat dalam kitab-kitab yang dahulu, ahli-ahli tafsir terus menganggap ia sebagai sokongan atau pentafsiran kepada al-Quran. Bagaimana mungkin ayat al-Quran ditafsirkan dengan riwayat Israiliyyat walhal penurunan kitab-kitab nabi terdahulu lebih awal lagi daripada al-Quran. Sepatutnya, kitab yang turun kemudianlah yang menjelaskan kitab-kitab yang terdahulu.

Hadis berkenaan perkara ini mempunyai beberapa versi. Antaranya ialah;

1. Perempuan itu diciptakan daripada tulang rusuk

2. Perempuan seperti tulang rusuk.

3. Perempuan adalah tulang rusuk.


2. Mengkhususkan Keumuman Hadis Tanpa Nas Yang Jelas

Antara kesilapan dan kekeliruan ialah mengkhususkan lafaz hadis yang menyebut perempuan kepada Hawa. Hadis-hadis yang diriwayatkan daripada Rasulullah s.a.w. semuanya dengan jelas menyatakan perempuan dalam bentuk tunggal atau jamak dan tidak ada yang menyebutkan Hawa secara khusus. Jelasnya, para pentafsir menyangka wanita dalam hadis tersebut adalah Hawa tanpa berdasarkan kepada nas yang lain yang menentukan makna yang dikehendaki oleh Rasulullah s.a.w. itu.


3. Kesilapan Memahami Kata Sendi Nama Min من

Walaupun perkataan min itu memberi erti “daripada”, “punca sesuatu perkara” atau “sebahagian”, kata sendi nama min juga mempunyai makna lain seperti “untuk menyatakan sebab” dan “menyatakan jenis sesuatu perkara”. Oleh itu, pemakaian huruf ini dalam bahasa Arab adalah luas dan tidak semestinya terikat dengan satu makna sahaja. (lihat, Ibn Hisyam, Mughni al-Labib, jil. 1, hal. 319)

Abu Muslim al-Asfahani mengatakan, maksud menciptakan daripadanya pasangannya ialah menciptakannya dari jenisnya. (lihat Hasyiah Zadah `Ala al-Baidhawi) Ini seperti ayat-ayat al-Quran berikut:


وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaannya dan rahmatNya, bahawa Dia menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya dan dijadikanNya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir. (Surah al-Rum: 21)

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi; Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri dan menjadikan dari jenis binatang-binatang ternak pasangan-pasangan (bagi bintang-binatang itu); dengan jalan yang demikian dikembangkanNya (zuriat keturunan) kamu semua. Tiada sesuatupun yang sebanding dengan (ZatNya, sifat-sifatNya dan pentadbiranNya) dan Dialah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat. (Surah al-Syura: 11)

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ

Dan Allah telah menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagi kamu daripada pasangan-pasangan kamu anak-anak dan cucu dan memberikan rezki kepada kamu daripada benda-benda yang baik. (Surah al-Nahl: 72)


Ayat-ayat ini tidak boleh difahami sebagai isteri-isteri kita itu diciptakan daripada diri atau jasad kita tetapi mestilah difahami sebagai “mereka itu dari jenis yang sama dengan kita”.


لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ


Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang rasul dari jenis kamu, yang amat berat baginya kesusahan kamu, sangat berharap akan keimanan kamu dan sangat kasih serta menyayangi kepada orang-orang yang beriman. (Surah al-Taubah:128)


لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya Allah s.w.t. telah memberikan kurniaan yang besar kepada orang-orang yang beriman ketika Dia mengutuskan seorang rasul kepada mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan Kitab dan Hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu berada di dalam kesesatan yang nyata. (Surah Ali Imran: 164.)

Kedua-dua ayat ini dengan jelasnya menyebutkan Rasulullah s.a.w. yang diutuskan kepada kita adalah dari kalangan manusia yang sama seperti kita bukan dari kalangan makhluk yang lain seperti malaikat.

Dengan itu, hadis ini ditafsirkan sebagai sifat dan perasaan perempuan itu daripada jenis yang mudah bengkok.

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذي جاره واستوصوا بالنساء خيرا، فإنهن خلقن من ضلع، وإن أعوج شيء في الضلع أعلاه، فإن ذهبت تقيمه كسرته، وأن تركته لم يزل أعوج، فاستوصوا بالنساء خيرا .

Sesiapa yang beriman dengan Allah dan Hari Akhirat, maka janganlah menyakiti jirannya dan hendaklah dia menjaga wanita dengan sebaik-baiknya kerana sesungguhnya mereka diciptakan daripada tulang rusuk. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling atas, jika kamu berusaha untuk membetulkannya kamu akan mematahkannya, jika kamu terus biarkan begitu ia akan terus bengkok. Oleh itu terimalah pesanan supaya menjaga wanita-wanita dengan baik. (Hadis riwayat al-Bukhari no: 4890)

عن أبي هريرة: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: المرأة كالضلع، إن أقمتها كسرتها.

Perempuan itu seperti tulang rusuk. Jika kamu ingin memperbetulkannya kamu akan mematahkannya. (Hadis riwayat al-Bukhari4889).

Hadis ini telah dikemukakan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab al-Nikah bab berlembut dengan wanita. Tujuan al-Bukhari mengemukakan hadis ini ialah untuk menyatakan sifat fitrah wanita bukannya hakikat kejadian mereka. Apakah tubuh atau jasad wanita akan mudah patah apabila dikasari oleh orang lain? Tentu sekali tidak.

عن أبي هريرة. قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن المرأة كالضلع. إذا ذهبت تقيمها كسرتها.

Sesungguhnya perempuan itu seperti tulang rusuk. Jika kamu ingin memperbetulkannya kamu akan mematahkannya. (Hadis riwayat Muslim no: 1468.)

Hadis ini lebih jelas lagi menyatakan sifat perempuan itu seperti tulang rusuk bukan diciptakan daripada tulang rusuk. Penggunakan partikel kaf ك ini bagi menyatakan persamaan antara perempuan dan tulang rusuk. Sementara ayat yang kedua merupakan sudut persamaan antara kedua-duanya.

Kecenderungan Imam al-Bukhari ketika membuat Tarjamatul Bab di dalam Sahihnya, iaitu:

باب: المداراة مع النساء، وقول النبي صلى الله عليه وسلم: (إنما المرأة كالضلع .

Bab berlembut dengan wanita dan Sabda Nabi s.a.w.: Sebenarnya perempuan itu seperti tulang rusuk.

Dengan membuat tajuk begini Imam al-Bukhari tidaklah berpendapat bahawa Hawa itu dijadikan daripada tulang rusuk kiri Nabi Adam.

Begitu juga di dalam al-Adab al-Mufrad, Imam al-Bukhari mengemukakan riwayat:

إن المرأة ضلع , وإنك إن تريد أن تقيمها تكسرها

Sesungguhnya perempuan itu tulang rusuk. Jika kamu mahu untuk meluruskannya maka kamu akan mematahkannya. (al-Adab al-Mufrad, no: 747)

Apakah hadis ini menyatakan hakikat perempuan itu sebenarnya tulang rusuk? Tentu sekali tidak. Hadis ini merupakah satu bentuk tasybih atau perumpamaan yang mempunyai nilai balaghah atau retorik yang tinggi di mana perkataan yang menyatakan persamaan tidak digunakan begitu juga sudut keserupaan tidak disertakan. Ayat yang kedua boleh juga dikatakan sebagai bukti bahawa perkataan tulang rusuk tidak difahami secara harfiah.

Sokongan Kepada Penafsiran Ini

Penafsiran min bukan dengan makna punca atau asal-usul sesuatu adalah sesuai hadis berikut:


عن أبي قلابة، عن أنس رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان في سفر، وكان غلام الله عليه وسلم: (رويدك يا أنجشة سوقك بالقوارير). قال أبو قلابة: يعني النساء. يحدو بهن يقال له أنجشة، فقال النبي صلى


Daripada Abu Qilabah daripada Anas bin Malik bahawa Rasulullah s.a.w. berada dalam satu perjalanan. Ada seorang budak yang dikenali dengan Anjisyah menarik unta yang ditunggangi oleh wanita-wanita. Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: Wahai Anjisyah! Perlahankanlah kerana yang kamu tarik itu ialah botol-botol kaca. Perawi, Abu Qilabah, berkata: Maksudnya ialah wanita-wanita. (Hadis riwayat al-Bukhari no: 5857.)

Rasulullah s.a.w. menggambarkan wanita sebagai golongan yang lembut dari segi perwatakan dan cukup sensitif. Baginda menyebutkan wanita seperti botol-botol kaca yang mudah pecah jika tidak dijaga dan diberi perhatian.

Kesimpulan

Hadis ini perlu difahami secara balaghah iaitu berdasarkan retorik bahasa Arab. Rasulullah s.a.w. menyampaikan pesanan ini dalam bentuk tasybih (perumpamaan) supaya maksud pesanan difahami dengan lebih mendalam. Tegasnya, supaya pendengar lebih peka dan prihatin bukan memberi perhatian kepada makna harfiah. Rasulullah s.a.w. membuat perumpamaan wanita seperti tulang rusuk bukan bermaksud untuk merendahkan kedudukan mereka tetapi sebagai peringatan kepada kaum lelaki supaya memberi perhatian kepada mereka, melayani mereka dengan baik, mendidik dan menjaga hati mereka. Sama seperti lelaki, wanita sama-sama berperanan untuk menegakkan agama dan menguruskan hal ehwal kehidupan.

Dengan pemahaman yang betul tentang hadis-hadis ini maka tertolaklah anggapan bahawa wanita adalah dari kelas kedua kerana kononnya dijadikan daripada orang lelaki iaitu Adam!

http://darulkautsar.net/article.php?ArticleID=367

Thursday, March 4, 2010

hati2 dgn apa yg dsuapkn ke mulut.. pbentuk hati & peribadi.

KUALA LUMPUR: Menggelikan hati apabila seorang pekerja restoran ‘mamak klon’ pucat lesi dan gagap sejurus diminta pegawai Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) mengucap dua kalimah syahadah dan membaca al-Fatihah bagi membuktikan dirinya penganut Islam tulen

Dalam sesi ujian oral terbabit, pekerja restoran terbabit yang mengaku Islam dari selatan India hanya terkebil-kebil selepas berulang kali diminta pegawai Jakim membacakan ayat mudah terbabit sejurus serbuan dilakukan di sebuah restoran ‘mamak’ di Kota Damansara, di sini.

Dalam operasi jam 11 pagi semalam, sepasukan pegawai Jakim dibantu pegawai Kementerian Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi dan Kepenggunaan (KPDNKK) Putrajaya menyerbu restoran terbabit selepas mendapat aduan berhubung penggunaan logo halal mencurigakan yang dipasang dalam premis berkenaan.

Penolong Pengarah Cawangan Pemantauan dan Penguatkuasaan Bahagian Hab Halal Jakim, Amri Abdullah yang mengetuai operasi terbabit berkata, langkah memeriksa premis makanan terbabit dilakukan selepas pihaknya menerima aduan pengguna yang keliru status restoran itu yang menggaji majoriti pekerja asing.

Menurutnya, sebaik tiba ke restoran terbabit, pegawai Jakim dan KPDNKK mendapati tiga logo halal Jakim disyaki palsu sengaja diletak di tiga penjuru restoran berkenaan yang diuruskan peniaga bukan Islam.

“Seorang penyelia restoran yang disoal siasat bagaimanapun berpura-pura mendakwa restoran terbabit ditauliahkan sijil halal Jakim, namun gagal membuktikan atau menunjukkan sijil berkenaan.

“Lelaki terbabit sebaliknya memberi alasan sijil halal Jakim berkenaan kini disimpan pemilik syarikat yang sedang berada di Kedah atas alasan mempunyai urusan perniagaan,” katanya.

Menurutnya, alasan itu dianggap tidak munasabah kerana kebiasaannya pemilik restoran atau kilang akan mempamerkan serta menggantungkan sijil halal berkenaan dalam premis untuk meyakinkan pelanggan berhubung produk dijual.

“Susulan itu, Jakim sengaja mengatur sesi ujian temuduga ringkas dengan meminta penyelia kedai terbabit menunjukkan pekerja beragama Islam. Justeru, penyelia terbabit segera memanggil seorang pekerjanya yang didakwa beragama Islam dan dibawa masuk dari India.

“Berdasarkan pas pekerja, pembantu restoran itu dikenali sebagai Ahmad Kadir, 26 tahun. Namun, agak mengejutkan apabila dia langsung tidak tahu mengucap dua kalimah syahadah apatah lagi membacakan surah al-Fatihah,” katanya.

Menurutnya, pembantu kedai terbabit terkebil-kebil kebingungan seolah-olah kali pertama mendengar ucapan dua kalimah syahadah yang dilafazkan seorang pegawai Jakim.

“Sehubungan itu, Jakim percaya bahawa semua pekerja di restoran terbabit adalah bukan Islam dan tidak layak mendapatkan sijil halal,” katanya ketika ditemui semalam.
Bimbang tindakan pemilik restoran terbabit terus memperdaya orang ramai, Jakim mengarahkan supaya logo halal Jakim segera ditanggal pekerja restoran berkenaan.

“Agak mendukacitakan apabila pemeriksaan mengejut pada bahagian dapur restoran mendapati lantai dan kawasan memasak dalam keadaan kotor tidak terurus,” katanya.
Menurutnya, pemilik restoran terbabit boleh dikenakan tindakan mengikut Seksyen 15(1) Akta Perihal Dagangan 1972 kerana memalsukan logo sijil halal Jakim yang boleh membawa denda maksimum RM250,000 jika sabit kesalahan.

~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~ ~~~~~~ ~~~~~ ~~~~~~ ~~~~~

~mengelikan hati pun mgelikan la jgak tp kne sgt2 bhati2, bab makanan ni la asas terpenting nk mjana peribadi siapa kita n bagaimana ibadat kita. jika dari asas ini pn kte dh gagal nk buat pilihan terbaik; dr segi halal (syar'ie) & toyyibah (ksihatan)nya,manakan pula nk bentuk masyarakat yg bebas masalah sosial yg makin meruncing ni. makanan jd darah daging n mbentuk hati, jika hati kotor maka buruklah segala2nya, akal n ptimbangan, uswah hasanah pun mulala terbiar. huhu, takotnya ble akidah terumbang-ambing dek krana makanan yg majority masyarakat anggap itu pkara remeh jah.~

Tuesday, March 2, 2010

kes hadanah - s.mustafa shukor

Oleh Murni Wan Omar
murni@hmetro.com.my
2010/03/02

PETALING JAYA: Bapa kepada Angkasawan Negara Datuk Sheikh Mustapha Sheikh Abd Shukor, 74, mendakwa anaknya Sheikh Mustaffa Shukor Al-Masrie ada melafazkan cerai talak satu terhadap isterinya dan sudah menjalani prosiding perbicaraan, lima bulan sebelum kematiannya.
Oleh itu, beliau memfailkan semula kes pengesahan lafaz cerai itu di Mahkamah Rendah Syariah di sini kerana sebelum itu mahkamah berkenaan tidak sempat membuat pengesahan terhadap talak yang didakwa dilafazkan Sheikh Mustaffa Shukor Al-Masrie terhadap Haryati Mohd Redza, 32.

Lafaz talak berbunyi ‘Aku ceraikan awak dengan satu talak’ itu didakwa berlaku pada 20 Mei 2007 dan permohonan itu difailkan oleh Allahyarham pada 21 Mei 2007 dan mula memberi keterangan pada 30 Julai 2007.

Bagaimanapun Allahyarham Sheikh Mustaffa Shukor Al-Masrie yang bekerja sebagai jurutera awam meninggal dunia di Pusat Perubatan Universiti Malaya pada 27 Oktober 2007 selepas koma seminggu akibat kecederaan di kepala kerana terhantuk tiang di sebuah restoran di Jalan Klang Lama.

Sheikh Mustapha melalui peguam syarie, Zulqarnain Lukman memfailkan permohonan bagi pengesahan lafaz talak arwah itu pada 25 Januari lalu dan Haryati memohon diberi masa dengan mendakwa baru menerimanya pada Jumaat lalu.

Hakim Syarie Ghazali Ahmad menetapkan 14 April ini untuk sebutan semula dan bagi membolehkan Haryati melantik peguam.

Sementara itu dalam prosiding semalam, Haryati yang diwakili peguam bela Suriati Ab Ghani mendakwa wang nafkah RM400 sebulan bagi dua anaknya Sheikh Aiman Shukor Al-Masrie, 4, dan Siti Balkish Aisha Al-Masrie, 2, tidak mencukupi.

Menurutnya, bagi anak pertama dia memerlukan RM650 sebulan manakala bagi anak kedua sebanyak RM540 sebulan merangkumi yuran tadika, pembantu rumah, makan minum, pakaian dan pengangkutan.

“Adik-beradik arwah datang memberi sumbangan contohnya pakaian, permainan dan bawa bercuti ke luar negara serta dijanjikan berhubung royalti. Keluarga mentua juga ada ambil anak setiap dua minggu sekali dan banyak kali yang mereka minta, saya bagi.

“RM400 diberi selepas hak lawatan dan nafkah sementara diberikan kepada saya. Terus terang saya katakan ia tidak cukup. Apabila kurang, saya akan tampung sendiri. Defendan bagaimanapun tak setuju,” katanya.

Sunday, February 28, 2010

kes syafia humairah

Perangai binatang

Oleh MOHD FIRDAUS IBRAHIM dan MD FUZI ABD LATEH
am@hmetro.com.my
2010/02/28

KUALA KUBU BHARU: “Dia memang bukan manusia dan tarafnya lebih rendah daripada binatang. Mana tidaknya, binatang pun tidak akan membuat perkara sekejam itu,” kata Siti Nurhanim Aziz, 25, ibu kepada Syafia Humairah Sahari, 3, yang maut dibelasah teman lelakinya, Jumaat lalu.

Menurut Siti Nurhanim, sebelum kejadian kejam yang meragut nyawa anaknya, teman lelakinya pernah memarahi Syafia kerana sering muntah ketika diberi makan.
Difahamkan, suspek mula hilang pertimbangan apabila kanak-kanak itu tidak mahu pulang ke rumah biarpun disuruh berulang kali.

Malah, rumah mangsa dan teman lelaki ibunya yang bekerja sebagai pemandu teksi dikatakan terletak di kawasan perumahan sama di Kampung Batu 30, Batang Kali, di sini, dan hanya dijarakkan dengan 10 rumah.

Jenazah Syafia dibawa ke rumahnya di Kampung Batu 30, di sini, selepas bedah siasat selesai dilakukan dan dia dijadualkan dikebumikan di Tanah Perkuburan Islam Kuang, di sini, pada jam 5 petang, semalam.

Semalam, Harian Metro melaporkan tindakan kejam seorang lelaki yang sanggup memijak kepala dan menendang seluruh tubuh mangsa di sebuah padang permainan di Kampung Batu 30, Batang Kali, di sini, sehingga menyebabkan kematiannya.

Dalam kejadian kira-kira jam 7.30 petang kelmarin, suspek dikatakan hilang pertimbangan sebelum membelasah kanak-kanak itu walaupun perbuatannya diperhatikan penduduk setempat.

Perut mangsa pecah

KUALA KUBU BHARU: Timbalan Ketua Polis Hulu Selangor, Deputi Superintendan Bakhtiar Mohd Rashid, berkata hasil bedah siasat mendapati punca kematian Syafia Humairah Sahari, 3, disebabkan bahagian perutnya pecah, pendarahan serius di otak selain kecederaan teruk di seluruh badan.

Bakhtiar berkata, pihaknya juga akan merakam percakapan bapa kandung mangsa dalam masa terdekat kerana dia mendakwa mengetahui anaknya didera sejak sekian lama.

Sementara itu, Bernama melaporkan Bakhtiar berkata, pemandu teksi yang berdepan tuduhan membunuh anak perempuan teman wanitanya juga bakal dihadapkan ke Mahkamah Syariah kerana bersekedudukan dengan ibu mangsa sehingga melahirkan seorang anak luar nikah.

Menurutnya, polis akan merujuk lelaki berumur 28 tahun itu dan ibu mangsa, 25, ke Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) untuk tindakan lanjut selepas didapati tidak berkahwin tetapi hidup bersama sehingga mempunyai seorang anak berusia setahun enam bulan hasil hubungan selama enam tahun.

Selain itu, Bakhtiar berkata, polis kini mengesan beberapa saksi di tempat kejadian untuk diambil keterangan mereka.

SUNGAI BULOH:

Oleh Amir Abd Hamid
amir@hmetro.com.my
2010/03/01

“Saya sudah banyak melakukan kesilapan, kalau boleh saya nak minta bantuan Jabatan Kebajikan Masyarakat (JKM). Ambillah saya, jagalah saya dan anak-anak saya...saya minta tolong sangat,” kata Nurhanim Aziz, 25, tersedu-sedu.
Ibu kepada kanak-kanak berusia tiga tahun, Syafia Humairah yang mati didera dalam kejadian di Rumah Murah Batu 30, Ulu Yam Lama, dekat Batang Kali, Khamis lalu itu mengharapkan JKM membantu dia dan dua lagi anaknya ditempatkan di rumah kebajikan untuk menjalani pemulihan, kaunseling dan perlindungan bagi memulakan hidup baru.

Dia yang ditemui di rumah keluarganya di Batu 16 1/2, Sungai Plong di sini, berkata dia kini trauma untuk meneruskan hidup dengan kejadian menimpa anak perempuannya itu.

Katanya, dia tidak sanggup lagi hidup menderita kerana terpaksa berdepan satu demi satu cabaran dalam hidup bermula dengan penahanan suaminya, Sahari Usol, 33, di Penjara Sungai Buloh sejak 2006 kerana kesalahan jenayah dan kini kehilangan anak tersayang. Menceritakan pengalaman hidupnya, Nurhanim berkata selepas suami dipenjarakan, dia yang sebelum itu suri rumah sepenuh masa terpaksa bekerja sebagai jurujual di pusat beli-belah di ibu negara bagi menyara tiga anaknya dan pada masa sama berdepan pandangan serong masyarakat kerana bersuamikan banduan.

“Saya masih muda...suami pula ditahan (di penjara) menyebabkan saya hidup menderita. (Kemudian) teman lelaki (suspek) hadir dalam hidup untuk membantu dan menjaga saya sehingga kami merancang untuk berkahwin tetapi suami tidak mahu melepaskan saya. “Pada masa itu, saya tidak tahu kepada siapa hendak mengadu dan meminta tolong, sekarang (kematian anak akibat didera) banyak pihak menyalahkan saya sedangkan ketika menderita tiada siapa yang ambil tahu,” katanya yang turut mengaku serik untuk menerima mana-mana lelaki lagi dalam hidupnya. Dia turut dikunjungi Menteri Pembangunan Wanita dan Masyarakat, Datuk Seri Shahrizat Jalil.

Anak keduanya, Syafia Humairah, 3, mati dengan kesan luka di muka dan perut, dipercayai didera teman lelaki Nurhanim di kediaman suspek di Kampung Batu 30, Ulu Yam Lama, dekat Batang Kali, malam Khamis lalu. Mangsa dipercayai ditampar dan disepak di perutnya beberapa kali sehingga cedera parah pada tubuh selain luka di muka, dagu, telinga serta lebam kaki dan tangan. Syafia meninggal dunia dalam perjalanan ke Hospital Kuala Kubu Bharu (HKKB) ketika dibawa suspek sebelum ditinggalkan di wad kecemasan. Suspek mendakwa kanak-kanak itu mati akibat kemalangan jalan raya. Bagaimanapun, pihak hospital mengesyaki berlaku penderaan terhadap mangsa selepas menemui banyak kesan luka dan lebam pada tubuh kanak-kanak itu sebelum polis menahan suspek yang mengaku mencederakan Syafia. Sementara itu, Shahrizat berkata, kementeriannya melalui JKM sedia membantu menempatkan Nurhanim dan dua lagi anaknya di rumah kebajikan bagi mendapatkan perlindungan dan pemulihan untuk memulakan hidup baru selepas trauma dengan kejadian menimpa anaknya. Nurhanim berkata, sejak berkenalan dengan teman lelakinya itu, lelaki berkenaan menunjukkan sikap mengambil berat terhadap anak-anaknya termasuk Syafia dan sering membawanya keluar makan bersama sertamembeli pakaian baru untuknya. Namun, Nurhanim tidak menyangka hubungan rapat itu akhirnya bertukar tragedi yang menyebabkan dia kehilangan seorang anak yang pintar, lebih menyedihkan melihat jenazah Syafia dalam keadaan sadis.

“Sebelum ini saya pernah melihat ada kesan luka dan lebam pada badan Syafia tetapi bila saya tanya pada arwah, dia cuma kata terjatuh ketika bermain di luar rumah. Saya tidak menyangka sebenarnya perbuatan itu dilakukan teman lelaki.

“Saya sekarang sentiasa teringatkan arwah...nak melelapkan mata pun nampak wajah arwah. Beberapa hari sebelum meninggal dunia, dia ada membuat permintaan supaya saya memakai tudung,” katanya.

Nurhanim berkata, pada hari kejadian, dia sedang bekerja dan menerima panggilan telefon daripada teman lelakinya yang memberitahu Syafia meninggal dunia akibat terjatuh dari motosikal menyebabkannya terkejut dan bergegas ke HKKB. “Tak sangka rupa-rupanya anak saya tidak terbabit dalam kemalangan, tetapi dipukul dan didera sehingga meninggal dunia,” katanya.

Ditanya mengenai laporan media sebelum ini yang mengatakan dia mengandung empat bulan hasil hubungan dengan teman lelakinya itu, Nurhanim menafikan kenyataan itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
innalillah wa inna ilaihi roji'un

dh jd complicated kes plak nk kne thabitkn nasab anak tu kpd spe. ayahnya (suami nurhanim) ke teman lelaki ibu mangsa..

satu hal lagi, mne pegi kluarga suami nurhanim ble dia dpenjarakn 4tahun lalu, spatutnya kluarga suami nurhanim tu yg kne amik peranan jaga anak2 nurhanim, cam yg ustaz bari hujahkn dlm cluz n di forum 'illegal nikah baru2 ni'.

bab nasab & wali mjadi isu hangat yg kami kupaskn dlm cluz Juristic Study of Family Institution a.k.a fiqh usrah

kalau suami dpenjara, ada cara lain nak 'bebas' dr ikatan pkahwinan tu if suami xnk lepaskn, either by khulu' or fasakh. qadi yg akn tntukn. xperlu la sampai bskedudukn n dpt lak anak xsah taraf sorg lgi. naifnya masyarakat sekeliling yg xmampu nk bantu dr segi ilmu. ak kesal..

~rasa cm nk buka firm khidmat social utk citizen yg bhadapan dgn konflik xth nk rujuk ke mne if ada kes2 umah tgga~

bulan lepas pn ada gk a sis luar yg refer ke ak kes nikah dsempadan by legal or illegal wali hakim, xdpt dknal pasti pn. then nk mtk cerai tp suami xnk lpaskn, sdgkn si prempuan dh mrangka nk kawen lain. 6thun hdup tnpa nafkah siap dia yg support ktagihan suami pada dadah. pendek kata, nk mtk cerai (fasakh or khulu') kne ada sijil sah pkahwinn dorg tu. masalahnya si suami dh hapuskn sgala dokumen smata2 xnk lpaskn isterinya.

~walaupun xbpe cerdik dlm fiqh usrah n undang2 kluarga islam malaysia, ak tlg pe yg tmampu je kat pompan ni. moga hidayah mengiringi ak n ptunjuk myuluh hdup pompan tu~

Friday, February 12, 2010

Hassan al Banna - حسن البنا

sempena memperingati hari kesyahidan as-syahid imam hasan albanna, ku post cket psl dia. sbb ritu gi ta'lim xdpt mtk pn hasil penelitian seorang bro ni tntg as-syahid (dr presentation that bro). so ku amik ni dr wikipedia sbg koleksi peribadi.

(14 Oktober 1906 - 12 Februari, 1949)

merupakan reformis sosial dan politik Mesir yang terkenal sebagai pengasas gerakan Jamiat al-Ikhwan al-Muslimun.

Hassan al Banna dilahirkan pada Oktober 1906 di desa al-Mahmudiyyah di daerah al-Bahriyyah, Iskandariah, Mesir (barat laut Kaherah). Beliau berasal dari sebuah perkampungan petani yang terkenal kuat mentaati ajaran dan nilai-nilai Islam, serta keluarga ulama yang dihormati.

Bapanya, Syeikh Ahmad bin Abdul Rahman al-Banna, merupakan seorang ulama, imam, guru dan seorang pengarang terkenal, lulusan Universiti Al-Azhar, yang menulis dan menyumbang menulis kitab-kitab hadis dan fiqh perundangan Islam dan juga memiliki kedai membaiki jam dan menjual gramophone. Syeikh Ahmad bin Abdul Rahman al-Banna turut mengkaji, menyelidik dan mengajar ilmu-ilmu agama seperti tafsir al-Qur'an dan hadis kepada penduduk tempatan, dan dia banyak dipengaruhi oleh fikrah serta cita-cita perjuangan Syeikh Muhammad Abduh dan Sayyid Jamaluddin al-Afghani.

Sungguhpun Syeikh Ahmad al-Banna dan isterinya memiliki sedikit harta, mereka bukannya orang yang kaya dan bertungkus lumus untuk mencari nafkah, terutama selepas berpindah ke Kaherah pada 1924; sebagaimana yang lain, mereka mendapati bahawa pendidikan Islam dan kealiman seseorang tidak lagi dihargai di ibu negara itu, dan hasilkerja tangan mereka tidak mampu menyaingi industri besar-besaran.. (Mitchell 1969, 1; Lia 1998, 22-24)

Ketika Hassan al-Banna berusia dua belas tahun, beliau menjadi pemimpin badan Latihan Akhlak dan Jemaah al-Suluka al-Akhlaqi yang dikelolakan oleh gurunya di sekolah. Pada peringkat ini beliau telah menghadiri majlis-majlis zikir yang diadakan oleh sebuah pertubuhan sufi, al-Ikhwan al-Hasafiyyah, dan menjadi ahli penuh pada tahun 1922. (Mitchell 1969, 2; Lia 25-26). Melalui pertubuhan ini beliau berkenalan dengan Ahmad al-Sakri yang kemudian memainkan peranan penting dalam penubuhan Ikhwan Muslimin.

Ketika berusia tiga belas tahun, Hassan al Banna menyertai tunjuk perasaan semasa revolusi 1919 menentang pemerintahan British. (Mitchell 1969, 3; Lia 1998, 26-27)

Pada tahun 1923, pada usia 16 tahun dia memasuki Dar al 'Ulum, sekolah latihan guru di Kaherah. Kehidupan di ibu negara menawarkannya aktiviti yang lebih luas berbanding di kampung dan peluang bagi bertemu dengan pelajar Islam terkemuka (kebanyakannya dengan bantuan kenalan ayahnya), tetapi dia amat terganggu dengan kesan Kebaratan yang dilihatnya disana, terutamanya peningkatan arus sekular seperti parti-parti politik, kumpulan-kumpulan sasterawan dan pertubuhan-pertubuhan sosial sekular terdorong ke arah melemahkan pengaruh Islam dan meruntuhkan nilai moral traditional. (Mitchell 1969, 2-4; Lia 1998, 28-30)

Dia turut kecewa dengan apa yang dilihatnya sebagai kegagalan sarjana Islam di Universiti al-Azhar untuk menyuarakan bangkangan mereka dengan peningkatan atheism dan pengaruh pendakwah Kristian. (Mitchell 1969, 5)

Beliau kemudian menganggotai pertubuhan Jama'atul Makram al-Akhlaq al-Islamiyyah yang giat mengadakan ceramah-ceramah Islam. Melalui pertubuhan ini, Hasan al-Banna dan rakan-rakannya menjalankan dakwah ke serata pelosok tempat, di kedai-kedai kopi dan tempat-tempat perhimpunan orang ramai.

Pada peringkat inilah beliau bertemu dan mengadakan hubungan dengan tokoh-tokoh Islam terkenal seperti Muhibbuddin al-Khatib, Muhammad Rashid Reda, Farid Wajdi dan lain-lain.

Di tahun akhirnya di Dar al-'Ulum, dia menulis bahawa dia bercadang menzuhudkan dirinya menjadi "penasihat dan guru" bagi golongan dewasa dan kanak-kanak, agar dapat megajar mereka "matlamat agama dan sumber kegembiraan dan keriangan dalam kehidupan". Dia mendapat ijazah pada tahun 1927 dan diberikan jawatan sebagai guru bahasa Arab di sekolah rendah kebangsaan di Isma'iliyya, bandar provincial terletak di Zon Terusan Suez. (Mitchell 1969, 6)

Al-Imam Hassan al-Banna kemudainnya menubuhkan gerakan Ikhwan Muslimin di bandar Ismailiyyah pada Mac 1928. Ketika itu beliau berusia 23 tahun.

Di Ismailiyya, sebagai tambahan kepada kelas siangnya, dia melaksanakan matlamatnya memberi kelas malam bagi keluarga anak muridnya. Dia juga berceramah di masjid, malah dikedai kopi, yang masa itu masih baru dan dipertikaikan nilai moralnya. Pada awalnya, sesetengah pandangannya berkenaan perlaksanaan Islam yang mudah mendorong kepada tentangan hebat dengan elit keagamaan tempatan, dan dia mengamalkan polisi mengelakkan kontrovesi agama. (Mitchell 1969, 7; Lia 1998, 32-35)

Dia sedih dengan tanda-tanda jelas pengawalan ketenteraan dan ekonomi di Isma'iliyya: kem ketenteraan British, kemudahan awam dimiliki oleh kepentingan luar, dan tempat tinggal mewah milik pekerja Syarikat Terusan Suez, bersebelahan dengan rumah haram pekerja Mesir. (Mitchell 1969, 7)

Setelah berkhidmat 19 tahun dalam bidang perguruan, beliau meletakkan jawatan pada tahun 1946 untuk menyusun kegiatan dakwah dengan berkesan dalam masyarakat di bandar itu. Pengalaman ahli jemaah yang dikumpulkan sekian lama menjadikan Ikhwan Muslimin sebuah gerakan yang berpengaruh.

Ternyata Hassan al-Banna adalah pemimpin yang bijak mengatur organisasi. Ikhwan Muslimin disusun dalam tiga peringkat iaitu, memperkenalkan Ikhwan dan menyebarkan dakwah asas melalui ceramah serta kegiatan kebajikan. Kemudian membentuk keperibadian anggota agar bersedia menjalani jihad seterusnya melaksanakan cita-cita perjuangan Islam dengan tegas. Ikhwan Muslimin berjaya menjadi sebuah gerakan yang menggegarkan Mesir terutama selepas perang dunia kedua apabila gerakan itu turut bertanding di dalam perebutan kuasa politik.

Pengaruh Ikhwan yang kian kuat amat dikhuatiri oleh kerajaan Mesir yang diketuai oleh al-Nukrasi Bassa dari parti al-Sa'di yang bertindak mengharamkan Ikhwan Muslimin pada 1948 atas tuduhan merancang satu pemberontakan untuk menjatuhkan kerajaan. Sungguhpun begitu Hassan al-Banna tidak ditahan dan beliau cuba sedaya upaya menyelamatkan Ikhwan. Malangnya usaha beliau belum berhasil sehinggalah ditembak pada waktu Zohor 12 Februari 1949, ketika keluar dari bangunan Ikhwan Muslimin. Beliau menghembuskan nafas terakhir di hospital dan pembunuhan beliau didakwa dirancang oleh polis rahsia kerajaan berikutan kematian perdana menteri yang dibunuh oleh seorang pelajar yang kecewa dengan pembubaran Ikhwan Muslimin.

Jenazah al-Imam Hassan Al-Banna telah dikebumikan dengan kawalan kereta-kereta kebal dan perisai. Orang ramai tidak dibenarkan menghadiri upacara pengebumiannya, yang hadir hanya keluarganya sendiri.

School of Life

"The difference between school and life are in SCHOOL, you were taught a lesson, then given a test to test your IQ, but in LIFE you are given the test first that teaches you a lesson. Test in life is one of the measure's faith or belief in God for all people"