Pages

Tuesday, August 30, 2011

kembali kepada fitrah

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞


Assalamu'alaikum w.t.b..

salam E'id al-fitri E'id mubarak diucapkan buat asdiqak al-a'izzak.

Ramadhan itu datang dengan tujuan untuk kembalikan kita kepada fitrah. Ramadhan yang pergi tetap dirindui dan Ramadhan akan datang terus dinanti. kerana fitrah diri ini masih belum putih seperti kehendakNya.



suram.. sesuram gerimis di hati,
mengapa kau menangis wahai diri?
merasakan dunia tidak lagi bererti
adakah kau meragui kasih Ilahi? mengapa tidak yakin adanya Allah bersamamu?
kau mencari-cari, meraba-raba dalam gelap hatimu
bingung.. nanar dalam ramai..
tak mengerti mengapa ini yang harus kau hadapi
kau menanti bilakah akan kau peroleh apa yg kau harapkan
merasakan Tuhan tdk lagi endah padamu
tdk lagi sudi memandangmu..?

Dari Anas ra katanya, Allah s.w.t berfirman:

"hai anak Adam! Sesungguhnya engkau, selama engkau brdoa dan berharap kepada Aku, Aku ampuni bagi engkau di atas dosa yang ada pada engkau dan Aku tiada peduli. Hai anak Adam! Kalau telah sampai sekalian dosa engkau ke awan langit kemudian itu engkau memohon keampunan Ku, niscaya Aku ampuni bagi engkau. Hai anak Adam! Sesungguhnya kalau engkau datang kepadaKu dengan kesalahan-kesalahan sepenuh bumi (ini) kemudian itu engkau menemui Aku pada hal tiada engkau mempersekutukan Aku dengan susuatu, nescaya Aku berikan kepada engkau keampunan degan sepenuh bumi”

(Diriwayatkan oleh At Tarmizi dan ia berkata : hadis Hasan lagi soheh)


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Rain begins to stop.
The Sun is smiling to me
Rainbow gives me hope.
Yesterday's thunderstorms have stopped.

Ya Allah,
You love me so much.
How dare i just neglected You like that!!!!
I entered that DARK ROOM, though You called and stopped me for so many times.

Ya Allah,
There's nothing in that DARK ROOM.
You are wright.
How dare i did'nt believe You!!!

Forgive me Ya Allah.
I know I'm totally wrong.
I know it was a way for You to tell me this.
Thank you Allah.
I really appreciate it.
May be to this extend only i realize that You are always there.
You are always here for me.
You are here to forgive me.

Ya Allah,
Please and please accept MY RETURN.
I have no where to go
Please accept me Ya Allah
and I believe that You will.

Katakanlah, " Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang".

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Quran) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyedarinya.

agar jangan ada orang yang mengatakan, " Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajipan) terhadap Allah, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah) ".

atau (agar jangan) ada yang berkata, " Sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa."

atau (agar jangan) ada yang berkata ketika melihat azab, " Sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), tentu aku termasuk orang-orang yang berbuat baik."

Sungguh, " sebenarnya keterangan-keteranganKu telah datang kepadamu, tetapi kamu mendustakannya, malah kamu menyombongkan diri dan termasuk orang kafir."

Az-Zumar, 39: 53-59


Ya Allah,
belum pun sempat airmataku menitis ke bumi, RahmanMu menyeka ia dengan pujukan ruhani memyuluh ku kembali ke jalan redhoMu. aamiin~

"ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu (Al-Quran)"

Saturday, August 20, 2011

Keutamaan 10 Terakhir bulan Ramadhan

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞



Pertama : Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serius dalam melakukan amaliah ibadah lebih banyak dibanding hari-hari lainnya. Keseriusan dan peningkatan ibadah di sini tidak terbatas pada satu jenis ibadah tertentu saja, namun meliputi semua jenis ibadah baik shalat, tilawatul qur`an, dzikir, shadaqah, dll.


Kedua : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan istri-istri beliau agar mereka juga berjaga untuk melakukan shalat, dzikir, dan lainnya. Hal ini karena semangat besar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar keluarganya juga dapat meraih keuntungan besar pada waktu-waktu utama tersebut. Sesungguhnya itu merupakan ghanimah yang tidak sepantasnya bagi seorang mukmin berakal untuk melewatkannya begitu saja.


Ketiga : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada 10 Terakhir ini, demi beliau memutuskan diri dari berbagai aktivitas keduniaan, untuk beliau konstrasi ibadah dan merasakan lezatnya ibadah tersebut.


Keempat : Pada malam-malam 10 Terakhir inilah sangat besar kemungkinan salah satu di antaranya adalah malam Lailatur Qadar. Suatu malam penuh barakah yang lebih baik daripada seribu bulan.



Keutamaan Lailatul Qadr


Di antara nikmat dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala terhadap umat Islam, dianugerahkannya kepada mereka satu malam yang mulia dan mempunyai banyak keutamaan. Suatu keutamaan yang tidak pernah didapati pada malam-malam selainnya. Tahukah anda, malam apakah itu? Dia adalah malam “Lailatul Qadr”. Suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ *

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadr) itu? Malam kemuliaan itu (Lailatul Qadr) lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadr: 1-5)


Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Bahwasanya (pahala) amalan pada malam yang barakah itu setara dengan pahala amalan yang dikerjakan selama 1000 bulan yang tidak ada padanya Lailatul Qadr. 1000 bulan itu sama dengan 83 tahun lebih. Itulah di antara keutamaan malam yang mulia tersebut. Maka dari itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk meraihnya, dan beliau bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِإِيْمَاناًوَاحْتِسَاباً،غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمُ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (H.R Al Bukhari no.1768, An Nasa’i no. 2164, Ahmad no. 8222)


Demikian pula Allah subhanahu wa ta’ala beritakan bahwa pada malam tersebut para malaikat dan malaikat Jibril turun. Hal ini menunjukkan betapa mulia dan pentingnya malam tersebut, karena tidaklah para malaikat itu turun kecuali karena perkara yang besar. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mensifati malam tersebut dengan firman-Nya:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar

Allah subhanahu wa ta’ala mensifati bahwa di malam itu penuh kesejahteraan, dan ini merupakan bukti tentang kemuliaan, kebaikan, dan barakahnya. Barangsiapa terhalangi dari kebaikan yang ada padanya, maka ia telah terhalangi dari kebaikan yang besar”. (Fatawa Ramadhan, hal. 848)

Wahai hamba-hamba Allah, adakah hati yang tergugah untuk menghidupkan malam tersebut dengan ibadah …?!, adakah hati yang terketuk untuk meraih malam yang lebih baik dari 1000 bulan ini …?! Betapa meruginya orang-orang yang menghabiskan malamnya dengan perbuatan yang sia-sia, apalagi dengan kemaksiatan kepada Allah.



Mengapa Disebut Malam “Lailatul Qadr”?

Para ulama menyebutkan beberapa sebab penamaan Lailatul Qadr, di antaranya:

1. Pada malam tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan secara rinci takdir segala sesuatu selama 1 tahun (dari Lailatul Qadr tahun tersebut hingga Lailatul Qadr tahun yang akan datang), sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ * [الدخان/3، 4]

“Sesungguhnya Kami telah menurukan Al-Qur`an pada malam penuh barakah (yakni Lailatul Qadr). Pada malam itu dirinci segala urusan (takdir) yang penuh hikmah”. (Ad Dukhan: 4)

2. Karena besarnya kedudukan dan kemuliaan malam tersebut di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

3. Ketaatan pada malam tersebut mempunyai kedudukan yang besar dan pahala yang banyak lagi mengalir. (Tafsir Ath-Thabari IV/200)

Kapan Terjadinya Lailatul Qadr?

Malam “Lailatul Qadr” terjadi pada bulan Ramadhan.

Pada tanggal berapakah? Dia terjadi pada salah satu dari malam-malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadr itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan)”. (H.R Al Bukhari no. 1878)

Lailatul Qadr terjadi pada setiap tahun. Ia berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil 10 hari terakhir (bulan Ramadhan) tersebut sesuai dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Lailatul Qadr itu (dapat) berpindah-pindah. Terkadang terjadi pada malam ke-27, dan terkadang terjadi pada malam selainnya, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits yang banyak jumlahnya tentang masalah ini. Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Bahwa beliau pada suatu tahun diperlihatkan Lailatul Qadr, dan ternyata ia terjadi pada malam ke-21″. (Fatawa Ramadhan, hal.855)

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud rahimahumallahu berkata: “Adapun pengkhususan (memastikan) malam tertentu dari bulan Ramadhan sebagai Lailatul Qadr, maka butuh terhadap dalil. Akan tetapi pada malam-malam ganjil dari 10 hari terakhir Ramadhan itulah dimungkinkan terjadinya Lailatul Qadr, dan lebih dimungkinkan lagi terjadi pada malam ke-27 karena telah ada hadits-hadits yang menunjukkannya”. (Fatawa Ramadhan, hal.856)

Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan:

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ إِذَا قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya apabila beliau menjelaskan tentang Lailatul Qadr maka beliau mengatakan : “(Dia adalah) Malam ke-27″. (H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil dalam Shahih Al-Musnad)

Kemungkinan paling besar adalah pada malam ke-27 Ramadhan. Hal ini didukung penegasan shahabat Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu :

عن أبي بن كعب قال : قال أبي في ليلة القدر : والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadr) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27. (HR. Muslim)



Tanda-tanda Lailatul Qadr

Pagi harinya matahari terbit dalam keadaan tidak menyilaukan, seperti halnya bejana (yang terbuat dari kuningan). (H.R Muslim)

Lailatul Qadr adalah malam yang tenang dan sejuk (tidak panas dan tidak dingin) serta sinar matahari di pagi harinya tidak menyilaukan. (H.R Ibnu Khuzaimah dan Al Bazzar)

Dengan Apakah Menghidupkan 10 Terakhir Ramadhan dan Lailatul Qadr?


Asy-Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz dan Asy Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahumallahu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh beribadah pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk mengerjakan shalat (malam), membaca Al-Qur’an, dan berdo’a daripada malam-malam selainnya”. (Fatawa Ramadhan, hal.856)

Demikianlah hendaknya seorang muslim/muslimah … Menghidupkan malam-malamnya pada 10 Terakhir di bulan Ramadhan dengan meningkatkan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala; shalat tarawih dengan penuh iman dan harapan pahala dari Allah I semata, membaca Al-Qur’an dengan berusaha memahami maknanya, membaca buku-buku yang bermanfaat, dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a serta memperbanyak dzikrullah.

Di antara bacaan do’a atau dzikir yang paling afdhal untuk dibaca pada malam (yang diperkirakan sebagai Lailatul Qadr) adalah sebagaimana yang ditanyakan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah jika aku mendapati Lailatul Qadr, do’a apakah yang aku baca pada malam tersebut?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bacalah:

اللهم إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi Maaf, Engkau suka pemberian maaf, maka maafkanlah aku”. (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka hendaknya pada malam tersebut memperbanyak do’a, dzikir, dan istighfar.


Apakah pahala Lailatul Qadr dapat diraih oleh seseorang yang tidak mengetahuinya?

Ada dua pendapat dalam masalah ini:

Pendapat Pertama: Bahwa pahala tersebut khusus bagi yang mengetahuinya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ini adalah pendapat kebanyakan para ulama. Yang menunjukkan hal ini adalah riwayat yang terdapat pada Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan lafazh:

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِفَيُوَافِقُهَا

“Barangsiapa yang menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr dan menepatinya.”

{kalimat فيوافقها di sini diartikan: mengetahuinya (bahwa itu Lailatul Qadr), pen-}

Menurut pandanganku pendapat inilah yang benar, walaupun aku tidak mengingkari adanya pahala yang tercurahkan kepada seseorang yang mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadr dalam rangka mencari Lailatul Qadr dalam keadaan ia tidak mengetahui bahwa itu adalah malam Lailatul Qadr”.


Pendapat Kedua: Didapatkannya pahala (yang dijanjikan) tersebut walaupun dalam keadaan tidak mengetahuinya. Ini merupakan pendapat Ath-Thabari, Al-Muhallab, Ibnul ‘Arabi, dan sejumlah dari ulama.

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah merajihkan pendapat ini, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya Asy-Syarhul Mumti’:

“Adapun pendapat sebagian ulama bahwa tidak didapatinya pahala Lailatul Qadr kecuali bagi yang mengetahuinya, maka itu adalah pendapat yang lemah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِإِيْمَاناًوَاحْتِسَاباً،غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr dalam keadaan iman dan mengharap balasan dari Allah I, diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (H.R Al Bukhari no.1768, An Nasa’i no. 2164, Ahmad no. 8222)

Rasulullah tidak mengatakan: “Dalam keadaan mengetahui Lailatul Qadr”. Jika hal itu merupakan syarat untuk mendapatkan pahala tersebut, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan pada umatnya. Adapun pendalilan mereka dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِفَيُوَافِقُهَا

“Barangsiapa yang menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr dan menepatinya.”

Maka makna فيوافقها di sini adalah: bertepatan dengan terjadinya Lailatul Qadr tersebut, walaupun ia tidak mengetahuinya”.

Semoga anugerah Lailatul Qadr ini dapat kita raih bersama, sehingga mendapatkan keutamaan pahala yang setara (bahkan) melebihi amalan 1000 bulan. Amiin Ya Rabbal ‘Alamin.



C & P dr rakan FB

Friday, August 19, 2011

Jihad Melayu lwn Jihad Amir Abdul Qadir al Jazairi

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞


..::by Nik Nazmi Nik Ahmad on Friday, August 19, 2011 at 4:08am::..

E-mel berikut saya tulis apabila ada yang mula bercakap tentang darah murtad halal dalam e-mel sesama kumpulan rakan-rakan lama saya. Inilah, bahaya apabila ilmu belum cukup dibakar oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab.

Moga kita saling ingat-mengingati.

Kalau saya silap sila betulkan:

Sebelum kita kata darah murtad halal, dsb mari kita renung kisah ni.

Aku baca buku Commander of the Faithful yang dikarang oleh org bukan Islam (tetapi dipuji Sheikh Hamza Yusuf) pasal Amir Abdul Qadir al Jazairi pemimpin Algeria zaman dulu.

Abdul Qadir ni hafal Quran, ahli tasauf (sufi), ilmu hebat.

Dia pimpin jihad bebaskan Algeria daripada Perancis. Pemimpin jihad ya.

Tapi sebab dia faham Islam, dia tunjuk akhlak Islam dalam berjihad.

Dia bebaskan tawanan perang bila tak cukup makan. Bila wakil paderi datang nak bebaskan seorang tahanan Perancis, Sheikh Abdul Qadir tanya kenapa dia tak minta semua tawanan dibebaskan dan terus bebaskan semua.

Akhirnya dia tewas dalam berjihad. Kerajaan Perancis takut gila nak hukum bunuh sebab takut lagi ramai orang Islam akan berjihad jika dia jadi korban.

Jadi dia ditahan di Perancis. Cerita akhlaknya waktu Perang jadi buah mulut orang Kristian Perancis sampai ramai yang datang nak mengenalinya.

Selepas lama ditahan di Perancis akhirnya dia dibebaskan. Dia begitu rindukan bumi islam jadi dia sanggup tinggal di jajahan takluk Turki Uthmaniyyah dan tidak pulang ke negaranya.

Dia tinggal di Istanbul sebelum ke Damsyik.

Waktu itu timbul rusuhan agama antara puak agama Druze dan Kristian. Sheikh Abdul Qadir secara peribadi bersama pengawal-pengawalnya menyelamatkan 30,000 orang Kristian.

Ramai dilindungi di rumahnya sendiri. Bila orang Islam datang ke rumahnya untuk menyembelih orang Kristian, dia tegur mereka bahawa Islam tak ajar bahawa wanita dan kanak2 Kristian ini boleh dibunuh. Macam2 alasan digunakan oleh orang Islam tu - Sheikh Abdul Qadir ingatkan Islam mengajar bahwa sesiapa yang membunuh seorang nyawa dianggap membunuh kesemua umat manusia.

"Berikan kami orang Kristian!"

"Bukankah Allah kata tiada paksaan dalam agama?"

Kata seorang umat Islam yang biadab itu: "Oi mujahid, kami tak mahu nasihat kamu. Kenapa kau nak campur tangan."

Seorang lagi menjerit, marah "Kau sendiri pernah bunuh Kristian dalam jihad kau lawan Perancis. Mengapa kau menentang kami untuk membalas dendam penghinaan mereka. Kau pun macam kafir!"

Jawab Sheikh Abdul Qadir "Kamu semua bodoh. Kristian yang aku bunuh merupakan penjajah yang merosakkan negara aku. Jika menentang syariat Allah tak menakutkan kamu, fikirkan hukuman yang engkau akan terima daripada manusia... Saya janji ia adalah dasyat. Jika engkau tidak mahu mendengar aku, maka Allah s.w.t. tidak memberikan kamu akal fikiran - kamu macam binatang yang hanya makan dan minum."

"Kau ambillah duta-duta kafir tu. Berikan kami orang Kristian!"

Sheikh Abdul Qadir tegaskan: "Selagi mana pengawal aku ada, engkau tidak akan menyentuh mereka. Mereka tetamu saya. Pembunuh wanita dan kanak-kanak, wahai anak-anak berdosa, cubalah ambil orang Kristian ini dan engkau akan belajar bagaimana askarku berlawan... Wahai pengawalku, dapatkan senjataku dan kudaku. Kita akan berjihad untuk keadilan, seperti mana kita berjihad dahulu."

Allahuakbar jerit pengikut-pengikutnya.

Orang islam yang begitu biadab dengan kemarahan dan kebencian pun mula berkurangan.

Sheikh Abdul Qadir kemudian dapat pengiktirafan Sultan Turki, pemerintahan Eropah malah pistol daripada Abraham Lincoln sebagai tanda kerana keberaniannya mempertahankan Islam dalam hal ini, hatta melindungi orang Kristian. Itulah Rahmatan lil alamin. Satu-satunya bandar di Amerika yang dinamakan atas nama Arab masih wujud hingga ke hari ini, Elkader.

Lebih penting lagi, Imam Muhammad Syamil, ahli sufi dan mujahid yang menentang tentera Kristian Russia di Chechnya dan dipenjarakan di Moscow menulis surat ke Sheikh Abdul Qadir mengatakan tindakannya selari dengan syariah.

Nak tanya sikit, kita ni lagi hebat daripada Sheikh Abdul Qadir ke? Situasi DAP / Kristian sini lagi dasyat dari zaman Damsyik ke?

Aku takut bila tengok orang Islam hari ini melalak2 nak pertahan Islam tapi tak faham Islam.

Wallahualam.

sumber: FB Nik Nazmi Nik Ahmad

Friday, August 5, 2011

Keberkatan Hari Jumaat

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞


˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆˜˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆





◘ Hari Ied (perayaan) yang Berulang Setiap minggu

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ »

Dari Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma berkata Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari ini (Jumat) Allah menjadikannya sebagai hari Ied (perayaan) bagi kaum muslimin, maka barangsiapa yang menghadiri shalat Jumat hendaknya mandi, jika ia memiliki wangi-wangian maka hendaknya dia memakainya dan bersiwaklah” (HR. Ibnu Majah dan haditsnya dinyatakan hasan oleh Al Albani)


˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆˜˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆


◘ Pada hari Jumat ada waktu mustajab untuk berdoa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ : « فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ » وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda tentang hari Jumat, “Pada hari Jumat ada waktu yang mana seorang hamba muslim yang tepat beribadah dan berdoa pada waktu tersebut meminta sesuatu melainkan niscaya Allah akan memberikan permintaannya”. Beliau mengisyaratkan dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu tersebut sangat sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)


˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆˜˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆


◘ Dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Nabi di hari Jumat

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : » إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَقُولُونَ بَلِيتَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ (رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه وأحمد)

Dari Aus bin Aus radhiyallohu anhu berkata Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang afdhal bagi kalian adalah hari Jumat; padanya Adam diciptakan dan diwafatkan, pada hari Jumat juga sangkakala (pertanda kiamat) ditiup dan padanya juga mereka dibangkitkan, karena itu perbanyaklah bershalawat kepadaku karena shalawat kalian akan diperhadapkan kepadaku” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat yang kami ucapkan untukmu bisa diperhadapkan padamu sedangkan jasadmu telah hancur ?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi tanah untuk memakan jasad para nabi” (HR. Abu Daud, Nasaai, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad yang shohih)



˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆˜˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆


◘ Seorang yang meninggal dunia di hari Jumat akan dilindungi dari siksa kubur

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ » (رواه الترمذي وأحمد)

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallohu anhuma berkata, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia di hari Jumat atau pada malamnya melainkan Allah melindunginya dari fitnah kubur” (HR. Tirmidzi dan Ahmad serta dinilai hasan atau shohih oleh Al Albani berdasarkan banyaknya jalur periwayatannya yang saling mendukung dan menguatkan)


˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆˜˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆


◘ Anjuran membaca surat Al Kahfi di malam Jumaat dan pada hari Jumaat

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنْ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Dari Abu Said Al Khudri radhiyallohu anhu berkata, “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi di malam Jumat niscaya Allah akan meneranginya dengan cahaya antara dia dengan Ka’bah” (Riwayat Darimi)


˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆˜˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆


◘ Dibolehkan shalat di pertengahan siang di hari Jumaat sebelum zuhur

عن سَلْمَان الْفَارِسِيّ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : » مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَتَطَهَّرَ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ثُمَّ ادَّهَنَ أَوْ مَسَّ مِنْ طِيبٍ ثُمَّ رَاحَ فَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَصَلَّى مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ إِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ أَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى « رواه البخاري

Dari Salman Al Farisi radhiyallohu anhu berkata Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya kemudian memakai wewangian lalu menuju ke mesjid dimana dia tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk di mesjid) lalu dia shalat sesuai dengan yang ditetapkan Allah (sekemampuannya) kemudian jika imam keluar dari tempatnya untuk berkhutbah dia diam mendengarkan khutbah niscaya akan diampuni dosanya yang terjadi diantara kedua Jumat” (HR. Bukhari)


˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆˜˜”*°•.¸☆ ★ ☆¸.•°*”˜˜”*°•.¸☆


◘ Seseorang yang mandi di hari Jumat maka itu merupakan pembersih baginya hingga Jumat berikutnya

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يَقُولُ : « مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ فِي طَهَارَةٍ إِلَى الْجُمُعَةِ الأُخْرَى ». (رواه الطبراني وغيره)

Dari Abu Qatadah radhiyallohu anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shalllallohu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat maka dia berada dalam keadaan suci hingga Jumat berikutnya” (HR. Thabrani, Abu Ya’la, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim. )


●●●●⊱●●⊱●●⊱●●⊱sebar-sebarkan Semoga Bermanfaat ⊰●●⊰●●⊰●●●●
by: LayarMinda

Monday, August 1, 2011

Status Hadis: Ramadhan, Keampunan, Rahmat & Bebas Neraka

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞


by Dr. Abdul Basit Bin Haji Abdul Rahman

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia, penuh berkat. Perkara ini sangat jelas dalam al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah saw yang sahih. Perbincangan di sini ialah mengenai kedudukan hadis di bawah ini;

[ أول شهر رمضان رحمة، وأوسطه مغفرة، وآخره عتق من النار ]

Ertinya: “Bulan Ramadhan, awalnya rahmah, tengah-tengahnya maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka“.

Menurut ulama’ hadis, dalil pembahagian Ramadhan menjadi tiga ini dhaif (lemah). Padahal hadis itu popular sekali di tengah bulan Ramadhan, disebut oleh penceramah dan pentazkirah.

Menurut Al-Ustaz Prof. Ali Mustafa Ya’qub, MA : Hadis itu memang bermasalah dari segi periwayatannya. Sebenarnya hadis ini diriwayatkan tidak hanya melalui satu jalur saja, namun ada dua jalur. Sayangnya, menurut beliau, kedua jalur itu tetap saja bermasalah.

Jalur Pertama: Salah satu jalur periwayatan hadisi ini versinya demikian:

أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار.

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-’Uqaili dalam kitab khusus tentang hadis dha’if yang berjudul ‘Adh-Dhu’afa‘. Juga diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam kitabnya Tarikh Baghdad. Serta diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Adiy, Ad-Dailami, dan Ibnu ‘Asakir. Mereka Yang Mendhaifkan.

Adapun para muhaddis yang mempermasalahkan riwayat ini antara lain:

1. Imam As-Suyuthi.

Beliau mengatakan bahwa hadis ini dhaif (lemah periwayatannya). [Al-Jami’ Al-Saghir]

2. Syeikh Al-Albani.

Beliau mengatakan bahwa riwayat ini statusnya munkar. Jadi sebenarnya antara keduanya tidak terjadi pertentangan. Hadis munkar sebebarnya termasuk ke dalam jajaran hadis dhaif juga. Sebagai hadis munkar, dia menempati urutan ketiga setelah hadis matruk (semi palsu) dan maudhu’ (palsu). [Lihat: Dhaif Al-Jami’ Al-Saghir, No. 2135 “Dhaif Jiddan’]

Sementara sanadnya adalah:

1. Sallam bin Sawwar.

2. dari Maslamah bin Shalt.

3. dari Az-Zuhri.

4. dari Abu Salamah.

5. dari Abu Hurairah.

6. dari Nabi SAW.

Dari rangkaian para perawi di atas, perawi yang pertama dan kedua bermasalah. Yaitu Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin Shalt.

Sallam bin Sawwar disebut oleh Ibnu Ady, seorang kritikus hadis, sebagai munkarul hadis. Sedangkan oleh Imam Ibnu Hibban, dikatakan bahwa hadisnya tidak boleh dijadikan hujjah (pegangan), kecuali bila ada rawi lain yang meriwayatkan hadisnya. Perkataan Ibnu Hibban ini disebut dalam kitab Al-Majruhin.

Sedangkan Maslamah bin Shalt adalah seorang yang matruk, sebagaimana komentar Abu Hatim. Secara etimologis, matruk berarti ditinggalkan. Sedangkan menurut terminologi hadis, hadis matruk adalah hadis yang dalam sanadnya ada rawi yang pendusta. Dan hadis matruk adalah ‘adik’ dari hadis maudhu’ (palsu).

Bezanya, kalau hadis maudhu’ itu perawinya adalah seorang pendusta, sedangkan hadis matruk itu perawinya sehari-hari sering berdusta. Kira-kira hadis matruk itu boleh dikira semi maudhu’.

Kesimpulan

Kesimpulannnya, hadis ini punya dua gelaran.

Pertama, gelarannya adalah hadis munkar kerana adanya Sallam bin Sawwar.

Gelaran kedua adalah hadis matruk kerana adanya Maslamah bin Shalt.

Wallahu a’lam bishssowab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ulasan Ust. Zaharuddin:

Jawapan yang diberi adalah benar, saya telah melakukan semakan juga, dan hasilnya adalah sama. Hadith tersebut adalah kurang kuat dan elok tidak dijadikan bahan ceramah, atau jika ingin pun, diletakkan dihujung-hujung dan disebut jelas ia adalah hadis yang diragui.

Memang benar, terdapat hadis lain seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Khuzaymah dalam kitab sohihnya, tetapi beliau sendiri meraguinya apabila menyebut di awal bab itu, إن صح الخبر

Ertinya : “Jika sohih khabar ini” ( Rujuk ibn Khuzaymah)

Imam Ibn Hajar al-Hathami memberi komentar setelah membawakan hadis panjang lebar yang mengandungi maksud petikan hadis pendek tadi, berkata:-

وفي سنده من صحّح وحسن له الترمذي، لكن ضعفه غيره، ومن ثم ذكره ابن خزيمة في صحيحه وعقبه بقوله: إن صح.

Ertinya: “Tentang sanadnya, terdapat mereka yang mensohihkannya, dan mengganggapnya hasan seperti Imam Tirmidzi, tetapi ia dianggap lemah orang ulama selain mereka, Ibn khuzaymah menyebutnya dalam kitab sohihnya tetapi diakhiri dengan katanya: Sekiranya Sohih” (Az-Zawajir, Ibn Hajar Al-haithami, 1/384)

Saya juga tidaklah hairan mengapa para penceramah dan sebahagian ulama kerap menggunakannya, ini adalah kerana hadis ini memang terdapat dalam agak banyak kitab-kitab arab silam samada Fiqh dan hadis tanpa dijelaskan kedudukan dan taraf kekuatannya, antaranya seperti berikut:-

1) I’anah at-Tolibin, 2/255;

2) Tabyin al-haqaiq, 1/179;

3) Syarah Faidhul Qadir, 1/469 ;

4) Targhib wa at-tarhib, 2/58

Apapun, yang lebih penting, banyak lagi ayat al-Quran dan hadith sohih serta hasan berkenaan puasa yang boleh dijadikan modal ceramah para penceramah.

Friday, July 22, 2011

bagaimana ketaatan kepada pemimpin?

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞


memetik sedikit tazkirah (peringatan dr laman sosial FaceBook) ada dua point penting untuk di'tadabbur' dari kisah khalifah di bawah. ana tidak mahu banyak menganalisa, cuma sekadar berkongsi fakta:


1. Dalam riwayat al-Tabarani yang dinilai hasan oleh al-Albani: “Muawiyah bin Abi Sufyan r.a (khalifah ketika itu) menaiki mimbar pada hari Jumaat, dia berkata dalam khutbahnya: “Harta ini (kerajaan) adalah harta kami, dan harta fai (yang diperolehi melalui peperangan) juga harta kami. Kami berikan kepada sesiapa yang kami mahu, dan kami tidak berikan kepada sesiapa yang kami mahu”. Tiada seorang pun yang menjawabnya. Apabila tiba jumaat yang kedua, dia mengucapkan perkara yang sama. Tiada siapa pun menjawabnya. Pada jumaat yang ketiga dia berkata perkara yang sama, lalu seorang lelaki yang hadir dalam masjid itu bangun dan berkata: “Sama sekali tidak! Harta ini adalah harta kami (rakyat) dan fai ini adalah fai kami (rakyat). Sesiapa yang menghalang antaranya dengan kami, kami hukumnya dengan pedang-pedang kami”. Apabila selesai solat, Muawiyat memerintahkan lelaki itu berjumpa dengannya. Orang ramai berkata: “Habislah dia”. Kemudian orangramai masuk dan mendapati dia duduk bersama Muawiyah di atas tempat duduknya. Muawiyah berkata kepada orang ramai: “Dia ini telah menghidupkanku (memberikan kebahagian), semoga Allah menghidupkannya. Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Akan ada pemimpin-pemimpin selepasku, mereka itu bercakap tiada siapa pun yang menjawab mereka. Mereka itu terjun ke dalam neraka seperti kera terjun”. Kata Muawiyah: Aku bercakap pada jumaat pertama, tiada siapa pun menjawabku, maka aku takut aku termasuk dalam kalangan mereka. Kemudian pada jumaat yang kedua, tiada siapapun menjawabku, maka aku pun berkata: “Aku termasuk dalam kalangan mereka”. Aku bercakap pada jumaat ketiga lelaki ini bangun menjawabku. Dia hidupkan (bahagiakan) daku, semoga Allah menghidupkannya”.


Itu generasi salaf. Itu khalifah di zaman salaf. Bagaimana pula dikatakan mazhab salaf melarang sama sekali menegur pemerintah di khalayak rakyat?!





Suatu hari, Umar Abdul Aziz mdapat tahu yang anaknya telah membeli mata cincin dengan harga 1000 dirham perak. Lantas dia menulis surat kepada anaknya

"Aku mdapat tahu yang engkau mmbeli mata cincin dengan harga 1000 dirham.Sekiranya surat ini sampai kepadamu,

Jualkanlah ia dan kenyangkanlah 1000 orang dengan duit itu. Belilah mata cincin yang harganya 2 dirham sahaja yang di buat dari besi cina"

-Dipetik dari Kitab Risalah Qusyairiah

khazanah dr DrMAZA.com & Abu Khuzaifah

Wednesday, July 20, 2011

Tugas Mukmin Di Bulan Ramadhan

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞



Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo Majalah Assunnah - Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Kategori Puasa
Tugas Mukmin Di Bulan Ramadhan
Jumaat, 13 Agustus 2010 02:15:45 WIB

TUGAS MUKMIN DI BULAN RAMADHAN

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halaby*)

Pada bulan Ramadhan, seorang Mukmin mempunyai beberapa tugas syar’i. Tugas-tugas ini sudah dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam melalui sunnah qauliyah (perkataan) beliau, juga praktek-praktek beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan. Nikmat-nikmat Allâh Azza wa Jalla yang dianugerahkan kepada para hamba pada bulan ini lebih banyak dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain.[1]

Tugas-tugas ini mencakup banyak persoalan hukum syar’i, yang meliputi seluruh amalan selama satu bulan yang penuh dengan amal kebaikan dan ketaqwaan.


PERTAMA : SHIYAM (PUASA).

Secara umum, shiyâm (puasa) memiliki keutamaan yang besar. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلْفَةُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

"Semua amal perbuatan bani Adam adalah kepunyaan bani Adam sendiri, kecuali puasa. Puasa itu kepunyaanKu, dan Aku yang akan memberikan balasan. Maka, demi Dzat yang nyawa Muhammad ada ditanganNya, sungguh di sisi Allâh, aroma mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih harum daripada minyak kasturi".


Imam Mazari rahimahullah dalam kitab al Mu’lim Bifawâ-idi Muslim (2/41), mengatakan,

“Dalam hadits qudsi ini, Allâh Azza wa Jalla secara khusus menyebut puasa sebagai “milikKu”,
padahal semua perbuatan baik yang dilakukan secara ikhlas juga milikNya; karena dalam puasa tidak mungkin (kecil kemungkinan-red) ada riyâ’, sebagaimana pada perbuatan-perbuatan selainnya. Karena puasa itu perbuatan menahan diri dan menahan lapar, sementara orang yang menahan diri -baik karena sudah kenyang atau pun karena miskin- zhahirnya sama saja dengan orang yang menahan diri dalam rangka beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla. Niat serta motivasi yang tersimpan dalam hatilah yang memiliki peranan penting dalam masalah ini. Sedangkan shalat, haji dan zakat merupakan perbuatan-perbuatan lahiriyah yang berpotensi menimbulkan riya’ [2] dan sum’ah [3]. Oleh karena itu, puasa dikhususkan sebagai milik Allâh sementara yang lainnya tidak."


Disamping keutamaan yang bersifat umum ini ada keutamaan khusus yang melekat dengan bulan Ramadhân, berdasarkan sabda Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang puasa Ramadhân karena iman dan karena ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat".[4]

Dan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

شَهْرُ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةُ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ

"Satu bulan sabar (berpuasa Ramadhân) ditambah tiga hari puasa pada setiap bulan, sama dengan puasa satu tahun".[5]

Yang dimaksud dengan bulan sabar yaitu bulan Ramadhan [6]. Ibnu Abdil Barr rahimahullah [7] menjelaskan,“Dalam kamus Lisânul Arab, shaum juga bermakna sabar. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas". [az-Zumar/39:10]

Abu Bakar Ibnul Anbari mengatakan,"Shaum (puasa) itu dinamakan sabar, karena puasa adalah menahan diri dari makan, minum, berkumpul suami-istri serta menahan diri dari syahwat."

KEDUA : QIYAMULLAIL (TARAWIH)

Shalat tarawih ini sunnahnya dikerjakan secara berjama’ah selama bulan Ramadhân. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

"Sesungguhnya barangsiapa yang shalat bersama imam sampai imam itu selesai, maka ditetapkan pahala baginya, seperti shalat sepanjang malam".[8]

Dalam menerangkan keutamaan shalat tarawih ini Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang shalat tarawih karena iman dan mengharap pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat" [9].

Petunjuk terbaik tentang jumlah raka’at shalat malam pada bulan Ramadhân atau bulan lainnya, ialah petunjuk yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dari perbuatan beliau, yaitu shalat 11 raka’at. Karena beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam panutan yang sempurna.


KETIGA : SHADAQAH.

Kedermawanan Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam paling menonjol pada bulan Ramadhân bila dibandingkan dengan kedermawanan beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm pada bulan-bulan yang lain [10].

Kedermawanan ini mencakup semua arti shadaqah dan semua jenis perbuatan baik. Karena kedermawanan itu banyak memberi dan sering memberi [11]. Dan ini mencakup berbagai macam amal kebajikan dan perbuatan baik.


KEEMPAT : MEMBERIKAN BUKA PUASA KEPADA ORANG YANG BERPUASA

Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menganjurkan umatnya untuk melakukannya dan memberitahukan pahala yang sangat besar sebagai hasil yang bisa mereka raih. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

"Barangsiapa yang memberikan makanan buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala, sebagaimana pahala orang yangberpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa".[12]


KELIMA : MEMBACA AL-QUR'AN.

Bulan Ramadhan, merupakan bulan al-Qur’an, sebagaimana difirmankan oleh Allâh Azza wa Jalla.

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)". [al-Baqarah/2:185].

Dalam sunnah ‘amaliyah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, terdapat keterangan tentang praktik nyatanya. Jibril Alaihissallam mengajak Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bertadarus al-Qur’ânpada setiap malam bulan Ramadhân [13].


KEENAM : UMRAH

Imam Bukhâri rahimahullah dan Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِيْ

"Umrah pada bulan Ramadhân sama dengan haji bersamaku".

Perhatikanlah keutamaan ini -semoga Allâh merahmati anda sekalian-. Alangkah besar dan alangkah afdhalnya.
p/s: knp yg ni xde sumber rujukan yer...?


KETUJUH : MENCARI LAILATUL QADAR

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’ân pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan". [al-Qadr/97:1-3].

Dalam kitab shahih Bukhâri dan Muslim ada riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa shalat pada malam qadar karena iman dan karena ingin mencari pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat".

Lailatul qadar itu berada pada malam-malam ganjil sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhân. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi rahimahulllah dan Ibnu Mâjah rahimahullah dengan sanad yang shahih dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, beliau Radhiyallahu 'anha bercerita :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَقُوْلُ قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Wahai Rasûlullâh, apakah yang aku katakan, jika aku mendapati lailatul qadar? Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Katakanlah :

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Ya Allâh, sesungguhnya engkau Maha Pemberi Maaf, maka maafkanlah aku."

Demikianlah ringkasan beberapa tugas pokok yang semestinya dilaksanakan oleh seorang muslim pada bulan yang penuh barakah ini. Adapun tugas selengkapnya yang wajib dijaga oleh seorang muslim pada bulan ini yaitu menahan diri dari segala perbuatan jelek, sabar terhadap penderitaan, menjaga hati dan melaksanakan kewajiban lahir, dengan cara konsisten menjalankan hukum-hukum Islam dan mengikuti sunnah-sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

[Diterjemahkan Redaksi dari Al Ashalah edisi 3/15 Sya’ban 1413 H halaman 70-72.]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 04-05/Tahun XIV/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Fathul Bâri 1/31.
[2]. Ingin amalannya dilihat orang
[3]. Ingin amalannya didengar orang
[4]. Muttafaqun alaihi dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
[5]. Diriwayatkan Imam Nasâ’i (4/218), Ahmad (2/263 dan 284) dan Thayâlisi (315) dan al Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dengan sanad shahih.
[6]. At-Tamhîd 19/61
[7]. At-Tamhîd
[8]. Hadits Riwayat Abu Dâwud, Tirmidzi, Nasâ’i, Ibnu Nashr dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu dengan sanad yang shahih
[9]. Muttafaq ‘alaihi
[10]. Muttafaq ‘alaihi
[11]. Lathâiful Ma’ârif, hlm. 173, karya Ibnu Rajab rahimahullah
[12]. Hadits diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Mâjah, dari Zaid bin Khalid Radhiyallahu 'anhu, dengan sanad yang shahih
[13]. HR Imam Bukhâri

School of Life

"The difference between school and life are in SCHOOL, you were taught a lesson, then given a test to test your IQ, but in LIFE you are given the test first that teaches you a lesson. Test in life is one of the measure's faith or belief in God for all people"