Pages

Tuesday, January 11, 2011

SAFAR: antara mitos dan realiti

sedikit perkongsian tentang beberapa isu mitos masyarakat dahulu terhadap bulan safar. ini cuma sekadar bacaan biasa yg tidak berniat menyentuh mana2 sensitiviti kaum dan sebagainya. dan ia bertujuan sekadar berkongsi ceritera masyarakat dari pembacaan masa lapang.
~sementara menantikan post2 terkini yg masih dalam penulisan untuk di-update dalam DZUR ni~

Safar adalah nama bulan kedua dalam kalender Islam atau kalender Hijriyah yang berdasarkan tahun Qamariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi). Ia berada diurutan kedua sesudah bulan Muharram.

Asal kata Safar dari Shafar. Yang menurut bahasa (linguistik) bererti kosong, ada pula yang mengartikannya kuning.

Sebab dinamakan Safar, karena kebiasaan orang-orang Arab zaman dulu sering meninggalkan tempat kediaman atau rumah mereka sehingga kosong untuk berperang menuntut pembalasan atas musuh-musuh mereka. Ada pula yang menyatakan, nama Safar diambil nama suatu jenis penyakit sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Arab jahiliyah pada masa dulu, yakni penyakit Safar yang bersarang di dalam perut, akibat dari adanya sejenis ulat besar yang sangat berbahaya. Kita kenal penyakit itu sekarang dengan nama penyakit Kusta. Ada pula yang menyatakan, Safar adalah sejenis angin berhawa panas yang menyerang bahagian perut dan mengakibatkan orang yang terkenanya menjadi sakit.

Di dalam bulan ini, ada juga kalangan umat Islam mengambil kesempatan melakukan perkara-perkara ibadah khurafat yang bertentangan dengan syariat Islam. Ini terjadi karena menurut kepercayaan turun-temurun sesetengah orang Islam yang jahil, bulan Safar ini merupakan bulan turunnya bala bencana dan mala petaka, khususnya pada rabu minggu terakhir dibulan Safar. Sehingga ada Beberapa kepercayaan masyarakat tentang adanya mitos pada bulan safar ini, sebagaimana yang diyakini oleh kalangan masyarakat Sunda dan Banjar; dari yang paling muda sampai yang paling tua.

Menurut masyarakat Sunda

Safar adalah bulan yang dianggap pamali untuk mengadakan pesta perayaan, seperti hajat pernikahan atau sunatan anak. Mereka sangat mempercayai tentang mala petaka yang akan turun pada Rabu Wekasan. Setidaknya menurut mereka ada dua musibah yang akan terjadi pada bulan ini, yaitu:

1. Paceklik Order (orang ekonomi cakap: DOWNTURN DEMAND. hehe~)

Berbeda dengan bulan Raya Agung (hari raya Idul Adha) yang ramai dengan acara hajatan terutama di akhir pekan, di bulan Safar janur kuning tidak lagi terlihat menghiasi gang dan gedung-gedung serbaguna. Masyarakat Sunda enggan untuk melangsungkan pesta perayaan pada bulan ini. Menurut Ahmad Gibson Al-Busthomi, seorang seniman Sunda, dalam sebuah diskusinya yang menyatakan bahwa dalam masyarakat Sunda tidak dikenal system perhitungan hari baik (astrologi) seperti dalam masyarakat Jawa. Namun, larangan melangsungkan pesta pernikahan atau sunatan ternyata sangat kuat tertancap dalam benak masyrakat. Mereka meyakini ikatan pernikahan yang dilakukan di bulan Safar tidak akan abadi, dan kedepannya akan sulit untuk mendapatkan keturunan (Zuriat).

Hal ini kemudian diperkuat dengan pandangan bahwa bulan Safar adalah bulan kahwin anjing. Di beberapa wewengkon tatar Sunda, terutama daerah yang dekat dengan hutan dan masih terdapat anjing liar, pada bulan ini sering terdengar gonggongan dan lolongan anjing. Anjing-anjing tersebut sedang naik birahi dan melakukan perkahwinan. Oleh karena itu orang Sunda cadu menikah di bulan ini, karena mereka tidak mau disamakan dengan binatang yang dianggap najis itu.

Kondisi tersebut tentu saja membawa pengaruh ekonomis kepada orang-orang yang bergelut di bisnis pesta hajatan. Para pengusaha perencana pernikahan, seniman, termasuk mubaligh mengalami paceklik order, tidak ada yang mengundang. Mereka akhirnya”berpuasa”, bahkan beberapa diantaranya harus berpindah pekerjaan di bidang lain untuk sementara waktu. Keadaan paceklik order ini baru berakhir tatkala bulan mulud tiba. Dalam sebuah peribahasa Sunda disebutkan “kokoro manggih mulud” orang yang sedang sengsara kemudian mendapat rezeki yang besar seperti bulan mulud. Para pekerja bisnis hajatan yang di bulan Safar dalam kondisi tiseun (sepi order), memasuki bulan mulud mereka kembali merema (banyak order).2. Bulan Bala'ie

Bulan Safar juga diyakini sebagai bulan bala'ie (bulan bencana). Keyakinan ini sudah terpatri kuat dalam benak masyarakat Sunda. Di bulan ini turun 70.000 penyakit untuk satu tahun ke depan. Berbagai musibah dan bencana juga banyak muncul dibulan ini. Lihat saja berbagai bencana yang saat ini terus melanda beberapa daerah Indonesia, menurut beberapa kalangan Sunda tradisional itu merupakan pertanda akan mitos tersebut. Mitos bulan bencana ini juga diperkuat dengan cerita sejarah kehancuran masyarakat zaman dahulu. Sejak zaman dahulu bencana senantiasa diturunkan di bulan Safar. Allah telah menghukum kaum yang tidak beriman seperti kaum ‘Aad dan Tsamud pada bulan ini.

Masyarakat Sunda pun meyakini bala bencana akan menjauh dan terbebas darinya, apabila menjalani ritual tolak bala dan bersedekah. Ritual tolak bala dilangsungkan dengan cara memanjatkan do’a dan mandi di pantai, sungai atau tempat-tempat keramat tertentu untuk membuang sial. Di masyarakat Cirebon ritual mandi Safar dikenal dengan ngirab.

Menurut masyarakat Banjar

Bagi orang Banjar, bulan Safar dianggap sebagai “bulan sial, bulan panas, bulan diturunkannya bala, dan bulan yang harus diwaspadai keberadaannya”. Kerana pada bulan ini, segala penyakit, racun, dan hal-hal magik memiliki kekuatan yang lebih dibanding pada bulan lainnya. Dalam anggapan masyarakat, kesialan bulan Safar akan semakin meningkat jika ketemu dengan Arba’ Musta’mir.

Karenanya menjadi semacam kebiasaan bagi orang Banjar untuk melakukan hal-hal tertentu untuk menghindari kesialan pada hari itu, misalnya;
1) Sholat sunnah mutlak disertai doa tolak bala,
2) Selamatan kampung, biasanya disertai dengan menulis wafak di atas piring kemudian dibilas dengan air, seterusnya dicampurkan dengan air di dalam drum supaya bisa dibagi-bagikan kepada orang banyak untuk diminum,
3) Mandi Safar untuk membuang sial, penyakit, dan hal-hal yang tidak baik. Mandi Safar ini menjadi atraksi wisata menarik di Kal-Teng yang dipromosikan. Mandi Safar ini merupakan tradisi masyarakat yang mendiami tepian sungai Mentaya,
4) Tidak melakukan atau bepergian jauh,
5) Tidak melakukan hal-hal yang menjadi pantangan, dan sebagainya. Bagi orang Jawa, untuk menyambut Arba’ Musta’mir (Rebo Wekasan) biasanya dilakukan dengan membuat kuih apam dari beras, kuih tersebut dibagi-bagikan kepada tetangga.

Hal lain yang juga menarik untuk diamati adalah, adanya anggapan orang Banjar bahwa anak-anak yang dilahirkan pada hari Arba’ Musta’mir jika sudah agak besar akan menjadi anak yang nakal dan hiperaktif. Sehingga untuk mencegah anak tersebut agar tidak nakal, disyaratkan agar sesudah ia lahir ditimbang (batimbang).

Namun seiring dengan perkembangan zaman dan peredaran waktu, kepercayaan masyarakat Sunda maupun masyarakat Banjar sebagaimana dijelaskan diatas, memang sudah mulai berkurang dan mengalami perubahan, tidak seperti dulu lagi dalam memandang bulan Safar. Dan tentu saja, masih ada beberapa orang yang menganggap Safar sebagai bulan kesialan, penuh bencana, penyakit, panas, dilarang melangsungkan pesta pernikahan atau sunatan, dan nahas.

Dalam kalangan masyarakat Sunda kepercayaan atau keyakinan tersebut dipandang memiliki benang merah dengan kearifan masyarakat tempatan (local wisdom). Larangan untuk melakukan aktivitas hajatan di bulan Safar memang tepat, kerana di bulan ini keadaan cuaca seringkali tidak bersahabat. Larangan ini juga boleh diposisikan sebagai penumbuh kesedaran tentang keseimbangan hidup. Masyarakat diajarkan ada waktunya untuk bersuka cita, bergembira dan berpesta, serta adakalanya pula harus beristirahat dan bersiap-siap menghadapi dugaan, derita dan duka cita. Dengan begitu akan tumbuh kesedaran hidup yang lebih hakiki.

Tolak bala dengan banyak memberi sedekah mengandung makna solidaritas sosial, “paheuyeuk-heuyeuk leungeun” atau saling membantu dan saling menolong. Tatkala di bulan ini tidak ada pesta hajatan, orang-orang miskin yang biasa membantu menjadi kehilangan sumber rezeki. Dengan sedekah mereka kembali mendapatkan topangan hidup.

Sedangkan, di kalangan masyarakat Banjar kepercayaan atau keyakinan tentang mitos bulan Safar ini, menurut penulis, boleh jadi kerana memang banyak kes-kes atau kejadian yang menimpa orang Banjar dan kebetulan pas di bulan Safar. Sehingga kerana seringnya terjadi apa yang ditakuti oleh orang Banjar di atas pada bulan Safar, lalu mereka menganggap bulan Safar sebagai bulan penuh kesialan, marabahaya, dan seterusnya. Akibatnya, dalam perspektif orang Banjar, bulan Safar adalah bulan yang harus diwaspadai dan ditakuti. Pantang bagi mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan penting di bulan Safar, misalnya perkawinan, membangun batajak (rumah), menurunkan kapal, bepergian jauh (madam), memulakan usaha (dagang, bercocok tanam), mendulang emas atau intan, dan sebagainya. Sebab, pengakhiran dari semua kegiatan tersebut dalam pemahaman mereka adalah kegagalan dan kesusahan, dan khusus bagi mereka yang mendulang sangat rentan terkena racun atau wisa.

Nah, untuk itulah menjadi hal yang signifikan menjernihkan semula kepercayaan dan keyakinan (pemahaman) masyarakat terhadap bulan Safar, agar tidak menjadi sebuah mitos dan trauma yang menakutkan.

Menurut catatan sejarah Islam sendiri banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dibulan Safar, antara lain:
1) Berlangsungnya perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Khadijah binti Khuwalid,
2) Peperangan pertama yang diikuti Rasulullah Saw, yakni perang ‘Wudan’ atau ‘Abwa’ untuk menentang kekufuran,
3) Peperangan Zi-Amin dan Bi’ru Ma’unah yang terjadi pada tahun ke-3 dan ke-4 Hijriyah, dibawah pimpinan Al-Munzir bin ‘Amr As Sa’idiy,
4) Perang Khaibar terhadap orang-orang Yahudi, terjadi pada tahun ke-7 Hijriyah,
5) Peperangan Maraj Rahit pada tahun ke-13 Hijriyah di pinggiran kota Damaskus (Syiria) di bawah pimpinan Khalid bin Al-Walid,
6) Pelantikan ‘Abd. Rahman Al Ghafiqiy sebagai Gubernur Andalusia (Spanyol) pada thun 113 H, 7) Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (ulama besar Kalimantan) dilahirkan pada tanggal 15 Safar 1122 H, dan lain-lain. Dengan demikian bulan Safar tidak selalu identik dengan bulan kejelekan atau bulan kesialan.

Al-Quran dengan tegas menyatakan:
“Katakanlah (wahai Muhammad), tidak sekali-kali akan menimpa kami sesuatu pun melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung yang menyelamatkan kami dan kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” (QS. At-Taubah 51).

Pada ayat yang lain:
“Jika kamu ditimpa musibah, maka katakanlah “Innaalillahi wa Inaailaihi Raaji’uun”.

Inilah sepatutnya yang menjadi pegangan umat Islam dalam memaknai bulan Safar dan hal-hal yang terjadi di dalamnya dengan memperbanyak amal ibadah, dzikir, doa, sedekah, guna lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah Saw sendiri menamai bulan Safar sebagai bulan sunnah atau Safar Al-Khair.

Waallahu A’lamu Bishowab

edited.
credit to: islahuddin


Datuk Wira Rashid Redza Md. Salleh (Mufti Melaka):
“Sukar mengikis amalan khurafat Safar ini mungkin kerana ia telah menjadi adat dan warisan turun temurun sejak nenek moyang lagi.
“Pewaris adat kuno tidak beradab ini cetek dan lemah dalam pegangan agama dan mereka yang terlibat pula sukar untuk dipastikan,” katanya.

Datuk Ahmad Alawi Adnan (Mufti Sabah);
“Fatwa menghalang amalan khurafat bulan Safar pernah dikeluarkan oleh Pejabat Mufti Negeri Sabah pada 18 Januari 2001. Ia sebagai panduan kepada masyarakat Islam negeri ini. “Namun seseorang itu tidak akan mampu memberi hidayah kepada seseorang lain melainkan dengan izin Allah s.w.t.

http://halida.multiply.com/reviews/item/63

Friday, January 7, 2011

jejak belia metropolitan


LAST CALL!! Masih ramai sukarelawan diperlukan !! Jom daftar SMS [nama] [umur] [no.tel.] [emel] ke 016-323 5700. JOM JEJAK BELIA METROPOLITAN!! 31 DIS 2010 (JUMAAT) JAM 2.30PETANG- 1 JANUARI 2010. T-Shirt Limited Edition 'Geng jejak Belia' disediakan kpd Sukarelawan Bertuah!!

panggilan terakhir itu saya sambut malam 30hb ajakan dari seorang senior percussion club tempat saya menuntut sekarang. mengahdiri Annual General Meeting malam itu membawa saya ke program ini.

hati memang teruja kerana pada first impression saya ia program yg sangat mencabar. yang saya tunggu sejak tahun pertama dulu. cumanya rakan yg mengajak risau andai saya tak mampu bawa diri di celah2an manusia yg bagaikan semut dan berkemungkinan juga akan mengundang padah jika bertembung dengan bahaya.

akhirnya.. hampir tamat degree baru saya berpeluang menyertai gerakan jejak belia metropolitan ini. di minda saya hanya ada 'tangkap orang buat maksiat malam tahun baru'. program anjuran ABIM ini bermula sejak jam 10.30 pagi lagi. tapi kami sebagai sukarelawan untuk program malam ini perlu hadir jam 5 petang.

memperosok diri dalam jutaan manusia yg menghala ke tujuan yg sama petang itu membuatkan dada saya rasa rimas dan lemas! semua mahu ke KLCC. cumanya ada yg tercabang ingin ke program anjuran masjid asy-syakirin KLCC dan sebaliknya ada yg datang untuk saksikan kemeriahan percikkan bunga api malam ini.

FASA I

saya dan kakak senior tiba tika asar baru usai dilaksanakan jemaah masjid. lepas mendaftar & solat kami di berikan briefing oleh ahli2 panel yg djemput. dan yang paling saya kenal, ustaz hanafi abdul malik. sesape selalu tgk Tanyalah Ustaz akan kenal beliau.

FASA II

talk oleh ustaz hanafi berkisar tentang cemane nak treat anak2 muda bermasalah yang bakal kamu jumpa nanti. caranya bukan dengan kekasaran. sama sekali tidak! apa yg saya paling ingat pesanan ustaz: "kita bukan penghukum, tapi kita orang yang akan menunjukkan jalan". itu je kuncinya. sematkan sekuat2nya dalam diri then pandai2 la kita bergerak bagaimana.

~bdk2 laki group saya masa program ni =)~

disamping petua tersebut, ustaz hanafi juga adakan sesi 'berlakon' antara kami para sukarelawan. berlakon bagaimana menjadi samseng, menjadi remaja2 bermasalah juga berlakon bagaimana nak 'cucuk jarum' pada hati mereka yang bermasalah, supaya mereka kembali dekat dengan kita yang ingin memimpin ni. sesi lakonan sekitar 6.15 petang hingga menjelang maghrib.

menghampiri maghrib kami dibenarkan beristirehat sebab malam nanti totally kena berjaga, bersengkang mata. sebelum detik 12 malam tu pihak ABIM dan masjid as-Syakirin ada anjurkan sesi ceramah oleh dua ahli panel termasuk moderatornya ustaz fauzi mustafa.

melepasi isyak dan seusai sesi ceramah dan konsert mini oleh UNIQUE, kami sekali lagi berkumpul beramai2 untuk ditaklimat semula buat para sukarelawan yang baru tiba. termasuk diagih2kan 'handout' untuk dserahkan ke tangan pemuda-pemudi di luar sana.


FASA III

tepat jam 12.10 malam, selepas beberapa minit menyaksikan tembakan dan percikkan bunga api dari ruang legar masjid as-syakirin, saya dan sahabat2 keluar memulakan operasi.

bismilliah... mengiringi langkah memahat kemas niat lillahi taala utk segala2nya. andai ada yang 'syahid' moga Allah terima. risiko sangat tinggi andai ada yang dirompak atau dicederakan gengster. bergerak mengikut kumpulan. kumpulan saya adalah saff pertama yang perlu berlepas. "ya Allah, permudahkan.."

nah! lihatlah sekitar pemandangan mata kami semua malam itu. bermula dengan berjalan keluar dari masjid hingga ke jalan bukit bintang. sepanjang perjalanan kaki melangkah tu macam2 orang yang group kami dekati. mula2 agak cuak, sbb ini pertama kali. alhamdulillah saya dianugerahkan 'bakat' berceloteh a.k.a membebel. so boleh la mulakan sikit2 sebelum mula 'aktif' bercakap.



untuk muhasabah diri, saya dah dekati secara peribadi seorang adik berusia 16 tahun yang ketandusan kasih sayang ibu bapa yang sibuk dengan hal masing2. tidak selalu ada di rumah. prestasi pelajarannya sangat bagus dan bercita2 nak jadi saintis. budak ni yang paling lama saya bersembang bercerita dengannya.

~di sini saya beramah-mesra mencungkil rahsia hati bdk2 yg bermasalah~


selain itu, ada seorang mamat ni jgak umur sekitar 22 tahun. latar belakang keluarganya baik tapi mungkin mindanya berfikir nak keluar dari kelompok orang baik2. kadang2 anak2 akan tertekan bila mak ayah 'push' sangat untuk jadi baik, mungkin salah pendekatan. Allahu a'alam.. cumanya dengan budak ni saya perlu lebih kritis, sebab akalnya agak matang dan jika saya tergelincir bhujah sikit je senang2 dia 'twist' untuk menangkan alasannya kenapa dia terpengaruh/suka ikut kawan2 dari dekat dengan keluarga.

~dgn cik kak ni pun saya suka bersembang. mula2 english pertuturan kami, then foreigner tu cakap bahasa melayu sikit2 dgn kami bertiga. then diakhir pertemuan tu saya cuba2 berbahasa arab lak. 'wat a broken one!' (saya ditengah2 bertudung putih)~


~siapa saya..? haha! pemilik baju biru berseluar & tudung putih itu~

credit to Muhammad Huzaifah Ahmad sebab saya cilok gambar2 dari blog beliau cket (sbb sy tunggu kwn saya xbagi2 lagi gambar ktorg amik malam tu + gambar dari kamera saya 'low' quality cket)

Saturday, January 1, 2011

Appreciation Night CONVEST'10

ini versi Palestine Tomorrow Will Be Free punya. kami hadiri appreciation night CONVEST'10 pada 29hb december 2010 lalu. beserta dengan pengumuman keputusan perlawanan bola piala suzuki tu, dharapkan hadirin yg datang lebih tenang nak makan :) then lbh tenang nak 'kembali' berhavoc dalam gambar cam dolu2..







coming s0on akan ada gambar appreciation night PTWBF sendiri ^_^ memang sweet sgt2 ukhuwah kami.. bmula dengan tak kenal berakhir dengan 1001 sebab takkan terungkai..

Tuesday, December 28, 2010

Bunga Yang Cantik Jarang Harum.

rentetan dari perkongsian mawar berduri

Wanita sinonim dengan kecantikan. Istilah "cermin" dalam bahasa Arab dekat sangat dengan wanita – kerana cermin itu dekat pula dengan kecantikan. Bercermin untuk kelihatan cantik. Ke mana-mana wanita pergi, cermin ada di sisi.Bagi yang tidak cantik bagaimana? Mereka bukan wanita?

Tunggu dulu, setiap yang Allah cipta pasti indah kerana Allah itu Maha Indah dan suka pada keindahan. Tuhan tidak mencipta manusia hodoh, Tuhan hanya mencipta manusia dengan kecantikan berbeza. Jadi, ingat itu... setiap wanita berhak untuk cantik!

Soalnya, di manakah letaknya kecantikan sebenar pada seorang wanita? Kalau kita tanyakan kepada para lelaki maka sudah pasti kita akan temui pelbagai jawapan. Ada yang merasakan kecantikan wanitaitu pada wajah, pada bentuk tubuh, pada kebijaksanaan atau pada tingkah lakunya.

Dan pada yang menyatakan kecantikan pada wajah pula terbahagi kepada pelbagai pandangan, ada yang mengatakan kecantikannya terletak pada hidung, pada mata dan sebagainya. Pendekata kecantikan itu bagi anggapan sesetengah orang sangat relatif sifatnya. Lain orang, lain penilaiannya.

Namun sebagai seorang Islam, kita tentulah ada kayu ukur tersendiri untuk menilai kecantikan. Kita tentunya mengukur kecantikan wanita mengikut kayu ukur Islam. Dan tentu sahaja kecantikan yang menjadi penilaian Islam adalah lebih hakiki dan abadi lagi.

Misalnya, kalaulah kecantikan itu hanya terletak pada wajah, wajah itu lambat-laun akan dimakan usia. Itu hanya bersifat sementara. Apabila usia meningkat, kulit akan berkedut tentulah wajah tidak cantik lagi. Jadi tentulah ini bukan ukuran kecantikan yang sejati dan abadi.

Sebagai hamba Allah, kita hendaklah melihat kecantikan selaras dengan penilaian Allah atas keyakinan apa yang dinilai oleh-Nya lebih tepat dan betul. Apakah kecantikan yang dimaksudkan itu? Kecantikan yang dimaksudkan ialah kecantikan budi pekerti ataupun akhlak. Itulah misi utama kedatangan Rasulullah SAW – untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Kecantikan akhlak jika ada pada seseorang, lebih kekal. Inilah kecantikan yang hakiki mengikut penilaian Allah. Hancur badan dikandung tanah, budi baik di kenang juga. Kecantikan akhlak ini juga adalah satu yang lebih abadi. Kata pepatah lagi, hutang budi dibawa mati. Malah akhlak yang baik juga sangat disukai oleh hati manusia. Contohnya, kalaulah ada orang yang wajahnya sahaja cantik tetapi akhlaknya buruk, pasti dia akan dibenci.

Ya, mata menilai kecantikan pada rupa. Akal menilai pada fikiran. Nafsu menilai pada bentuk tubuh. Tetapi hati tentulah pada akhlak dan budi. Kecantikan akhlak ini diterima oleh semua orang. Katalah orang jujur, siapapun suka. Semua orang sepakat menyayangi orang yang jujur itu disukai. Sedangkan jika menurut ukuran rupa, penilaian manusia tetap tidak sama. Sebab itu ada pepatah yang mengatakan, 'beauty in the eye of beholder'.

Rasulullah saw juga telah pernah menegaskan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang solehah. Wanita solehah ialah perhiasan rumah-tangga, perhiasan masyarakat dan perhiasan negara. Jika ada ibu yang solehah, anak-anaknya tentu mendapat manfaat. Mereka akan terdidik dengan baik.

Jika ada isteri yang solehah, suami pun akan mendapat manfaat. Para isteri ini akan memudahkan urusan rumah-tangga, menjalinkan hubungan keluargha dengan penuh kasih-sayang dan lain-lain. Tuturkatanya baik, tingkah lakunya baik, senyumannya menawan dan segala-galanya indah... mereka bayangan bidadari syurga di dunia ini.

Kenapa banyak wanita yang memiliki kecantikan tetapi musnah hidupnya? Ada ungkapan yang berbunyi, kemusnahan akan menimpa bilawanita mula merasai dirinya cantik dan mempamirkan kecantikan. Sejauhmana benarnya, wallahua'lam. Tetapi apa yang pasti, menurut Islam jika kecantikan tidak disertai iman yang kuat, maka pemiliknya akan hilang kawalan diri. Akibatnya ramai wanita cantik diperdayakan oleh syaitan untuk menggoda manusia melakukan kemungkaran. Lihatlah di sekeliling kita. Kata orang, bunga yang cantik jarang yang harum! Ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah.

Tanpa iman, kecantikan akan dipergunakan ke arah kejahatan dan kemaksiatan, yang akhirnya akan memusnahkan diri pemiliknya dan orang lain. Cuba kita lihat apa yang terjadi kepada bintang filem barat (di sinipun apa kurangnya), ada yang memporak-perandakan negara, rumah-tangga dan berakhir dengan sakit jiwa dan bunuh diri.

Cantik tidak salah, tetapi salah menggunakan kecantikkan itulah yang salah. Kata orang, wanita yang cantik jarang berakhlak. Umpama bunga yang cantik, jarang yang wangi. Tetapi kalau cantik dan berakhlak pula, inilah yang hebat. Umpama cantiknya wanita solehah pada zaman nabi seperti Siti Aishah RA, Atikah binti Zaid dan lain-lain.

Bagaimana mendapat kecantikan sejati? Perlu kita faham kecantikan itu bermula dari dalam ke luar. Bukan sebaliknya. Oleh itu pertama, tanamkan di dalam hati kita iman yang benar-benar kuat berdasarkan ilmu yang tepat dan penghayatan yang tinggi. Iman itu keyakinan, kasih sayang, kemaafan, sangka baik dan reda. Rasa-rasa ini buktikanlah dengan perbuatan yang baik. Bila hati baik, wajah akan sentiasa cantik.

Jadi perkara kedua ialah susulilah iman itu dengan perbuatan yang baik. Ertinya, kita atur kehidupan mengikut syariat atau peraturan Tuhan. Dan apabila iman ditanam, syariat ditegakkan, akan berbuahlah akhlak yang mulia. Wajah, perilaku dan peribadi kita akan nampak cantik sekali. Inilah yang dikatakan kecantikan yang hakiki. Biar buruk rupa, jangan buruk perangai. Apa gunanya mulut yang cantik kalau kita gunakan untuk mengumpat?

Ya, kecantikan akhlak... boleh dimiliki oleh sesiapa sahaja, oleh yang rupawan mahupun yang hodoh. Itu bukti keadilan Allah yang mencipta wanita dengan berbagai wajah dan rupa... tapi peluangnya untuk "cantik" tetap serupa!

kredit untuk: Ustaz Pahrol Mohd Juoi merupakan seorang penulis buku, artikel, lirik nasyid dan juga skrip. Salah satu buku karangan beliau adalah 'Tentang Cinta.' Penulis kelahiran Ipoh, Perak ini merupakan seorang master trainer untuk syarikat Fitrah Perkasa Sdn. Bhd. dan juga ketua editor majalah Solusi terbitan syarikat Telaga Biru Dsn. Bhd.. Blog beliau adalah www.genta-rasa.com.

perkonsian dari makalah Facebook kerana ana sayang enti

Friday, December 24, 2010

cita-cita yang tak pernah menjadi

Bertanyalah pada mereka yang berusia lebih 20 tahun : apakah bidang yang mereka terokai itu, adalah apa yang mereka impikan? Saya percaya 5 daripada 10 orang daripada mereka yang ditanya itu akan mengiyakan dengan yakin dan bangga. Mereka ini akan berkata, 'ya' inilah bidang yang mereka ingin ceburi.

bertanya pula pada mereka yang berusia lebih 30 tahun : apakah bidang yang mereka ceburi itu adalah apa yang mereka impikan? Saya percaya, daripada 10 orang yang ditanya, tidak seorang pun daripada mereka sedang menikmati bidang yang mereka cita-citakan.

Tanyalah mereka yang lebih 30 tahun di sekeliling anda; jiran, kenalan, sahabat, rakan sepejabat, malah sesiapa sahaja. Anda akan dapati bidang yang mereka terokai itu sama sekali bukan bidang yang dicita-citakan.

Malah, tanyalah diri kita sendiri. Apakah bidang yang menjadi kerjaya kita kini adalah sebenar-benarnya bidang yang kita impi-impikan? Jawapan yang jujur tentulah 'tidak!'

Okeylah, mana mungkin tiada sesiapa pun yang tidak mencapai dan menikmati apa yang dicita-citakan? Kenyataan di atas mungkin sekali andaian. Namun, jika kita temui orang yang benar-benar mempunyai cita-cita sejak kecil untuk menjadi arkitek dan dapat melanjutkan pelajaran dari peringkat diploma, degree, master dan peringkat kedoktoran di dalam bidang itu, dan kini adalah seorang arkitek ~ tanyalah kepada mereka apa yang mereka mahu? Jawapan mereka ialah mereka mahu meninggalkan bidang itu dan menceburi bidang lain!

Mengapa terjadi begini? Mengapa cita-cita yang diingini beralih arah, seiring waktu beranjak? Mengapa pula cita-cita yang digapai hendak dilepaskan pula? Bukankah ini menandakan hanya Dia berkuasa terhadap apa sahaja?

Merancanglah dengan teliti dan rapi. Kemudian berusahalah dan gapailah apa yang diimpikan itu. Sebaik sahaja kita berasa berjaya memperoleh sesuatu dengan usaha kita sendiri, tanpa kita sedari, apa yang dicita-citakan, apa yang tergapai semuanya akan melorot dari genggaman.

Kerana apa? Kerana Allah tidak mahu kita berasa, kitalah yang berjaya di atas usaha sendiri. Lantas berdasarkan kejayaan itu, kita terus berusaha dan berusaha hingga mempunyai kepercayaan yang kita berkuasa terhadap kehendak itu. Lantas perasan kitalah master of our destiny, lalu melupakan kesemuanya adalah di dalam genggaman-Nya.

"Ketahuilah bahawa (yang dikatakan) kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah (bawaan hidup yang berupa semata-mata) permainan dan hiburan (yang melalaikan) serta perhiasan (yang mengurang), juga (bawaan hidup yang bertujuan) bermegah-megah di antara kamu (dengan kelebihan, kekuatan dan bangsa keturunan) serta berlumba-lumba membanyakkan harta benda dan anak pinak; (semuanya itu terhad waktunya)

samalah seperti hujan yang (menumbuhkan tanaman yang menghijau subur) menjadikan penanamnya suka dan tertarik hati kepada kesuburannya, kemudian tanaman itu bergerak segar (ke suatu masa yang tertentu), selepas itu engkau melihatnya berupa kuning; Akhirnya ia menjadi hancur bersepai dan (hendaklah diketahui lagi, bahawa)

di akhirat ada azab yang berat (di sediakan bagi golongan yang hanya mengutamakan kehidupan dunia itu) dan (ada pula) keampunan besar serta keredaan dari Allah (disediakan bagi orang-orang yang mengutamakan akhirat) dan (ingatlah, bahawa) kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya."

~ Al- Hadid: 20

Justeru itu, janganlah terlalu berbangga
bila memperoleh apa yang diimpikan.
Jangan pula meraung sakan andainya
apa yang dicita-citakan tidak dapat digapai.
Segala-galanya adalah
hak Pencipta seluruh alam ini.

- Artikel iluvislam.com
**** **** ****

Tuesday, December 21, 2010

PRU-13 & PRK sesi '10/'11 ~ Fiqh as-Siyasah

Alhamdulillah untuk nikmat berada dalam Iman dan Islam di tahun baru Hijriyyah dan bakal tahun baru Masihiyyah..

IPTA sekarang tengah 'warming-up' untuk pemilihan calon bakal2 pemimpin akan datang sebagai perwakilan pelajar. termasuklah di tempat saya belajar. tak dilupakan juga kehangatan PRU-13 di Malaysia yang bakal diadakan dalam jangka masa yang singkat; tak lama lagi dah..

sedikit perkongsian dari Dr. Yusuf Al-Qaradawi tentang apa yang bakal kita semua lalui nanti :) moga beroleh sedikit manfaat dari perkongsian saya ni dan beroleh manfa'ah sebanyak2nya dari kupasan padat syeikhuna Dr. ...

Adapted and rearranged from the book Fiqh al-Dawlah i.e.understanding the rules of governance in Islam written by Professor Dr.Yusuf al Qaradawi

1. What is the aim of politics in Islam?

According to Al-Mawardi from his book Al-Ahkam Al-Sultaniyyah i.e the rules of governance, it is hirasatud din wa siasatud dunya – to uphold the religion and administer the world. Politics is not munkar – is not a depravity – real politics is noble and virtuous because it administers the affairs of all creatures i.e. humans, animals, environment etc…, bringing man closer to good and away from fasad i.e. evil. According to Ibn al-Qayyim, politics is really the justice of Allah the Almighty and His Prophet (peace and the blessings of Allah be upon him).

The Prophet Muhammad s.a.w. was a politician as well as the messenger conveying the risalah (the message), murabbii(educator), teacher, Qadi ( Chief Justice), Head of the nation and Imam of the ummah. The Khulafa’ al Rashidun (the rightly guided leaders) who succeeded him were also politicians following the Sunnah ( the way of the Prophet), establishing just administration, practising ihsan (righteousness) – the betterment of good and providing the leadership of ‘ilm (knowledge) and Iman (belief)

However in the present time, due to ‘politics’ man faced suffering as a result of deceit and political ploys and scheming and devious or corrupt politicians, whether in the form of past colonialists, treacherous rulers, tyrannical leaders and regimes preaching Machiavellian philosophy (the ends justifies the means!) .

It became common to label and describe committed Muslims as ‘political’ so that they are regarded warily and wickedly for the purpose of disassociating and furthering apart the people from them, intending that society will shun and hate what is called ‘political Islam’. It has been such that symbols of Islam like the headscarf, the proper attire and congregational prayers – Salat jama’ah (congregation) are attempted to be labelled ‘political’.

It is a blatant lie for those who say that there is no religion in politics and that there is no politics in religion. This deceit was once tried in the form of an attempted fatwa – a decree while the members of the Ikhwan al-Muslimun were imprisoned in the detention camps in Egypt in the 50’s. The regime wanted to influence the masses to regard the activists and the Dai’ (the very people who wanted to uphold the Shari’ah, Al-Qur’an and Al-Sunnah) as the purveyors of fasad (evil) by using corrupted ‘ulama (-paid scholars).


2. The Fight against Fasad and Zulm (Evil, Transgression and Tyranny) is the utmost in Jihad

From the understanding of the Prophet’s tradition (mafhum hadith):

Munkar (transgression) is not limited to khamr ( liquor), gambling and zina – - unlawful sex but degrading and defiling the honour and dignity of the people and citizens is a major transgression, so is cheating in the elections, refusing to give testimony – neglecting to vote, letting government be in the hands of those who are not deserving and undesired, stealing and squandering the nation’s wealth and property, monopolising the people’s needs for personal gains or cronies’ interests, detaining people without crime or just cause, without judgement from a fair court, torturing human beings in prison and the detention camps, giving, accepting and mediating in bribes, cowering up to, praising evil rulers, allowing the enemies of Allah and the enemies of the Muslim community to be leaders and shunning the believers – the mu’min. These are all grave transgressions! When a Muslim remains quiet upon seeing all of these it means that he or she does not deserve to live (is not alive) from the mafhum of al-ayat and al-hadith.


Islam requires that every Muslim has political responsibility. A Muslim is required by his Iman – faith to be truly concerned with the affairs and problems of the ummah – community, helping and defending the meek and the weak, fighting tyranny and oppression. By retreating and abstaining oneself, it will only invite divine retribution and being seized by the flames of hell (mafhum ayat).

3. Political Freedom is Our Utmost Need Today

Islam is always rejuvenated, its message spread across, its resurgence, its reverberating call heard by all even if it is given some limited freedom. Therefore the first battle is to obtain freedom to deliver the message of da’wah, the risalah of tawhid (Oneness of God), spread consciousness and enabling the existence of Islamic movements.

True democracy is not the whims and desires of the tyrannical rulers or their cronies, it is not the place to jail and incarcerate its fighters and not the place to torture its proponents.

Democracy is the simplest and proper way to achieve the aims of a noble life, to be able to invite all to Allah and Islam, to be able to call others to Iman (belief) without having our souls being imprisoned and our bodies sentenced to be executed by hanging. It is the space for a free and honourable nation to have the right to choose, evaluate the ruler, change governments without coups and without bloodshed.

The theory, way and system which look alien maybe adopted if it benefits us and as long as it does not contradict clear Islamic edicts and the rules of Shariah. We appraise, amend according to our spirit, we do not adopt its philosophy, and we do not allow what is forbidden and vice versa. We do not relinquish or compromise what is ordained or compulsory – the wajib in Islam.

The gist of democracy is that the public, the people can choose the rulers who are going to administer them; the people having the right to select, criticise and terminate; and the people are not forced to accept systems, trends, and policies which they do not agree to and they are not abused. They are free to hold elections, referendums, ensuring majority rights, protecting minority rights, having opposition, have multi parties, have press freedom and safeguarding the independence of the judiciary. But once again to constantly uphold and safeguard the principles of Islam, the firm rulings, the al-thawabit: the determined laws – hukm qat’i, the daruri – the essentials of religion and the non-ijtihadiy (Islamic ruling)) must not be compromised or neglected.

Shurah i.e. consultation or consultative decision making must be followed and not just as a debating factor. By practising Shurah i.e. consultation, it is closer, hence even better than the spirit of democracy. It is but the lost jewel found, the lost wisdom – al-hikmah which has been rediscovered.

Shurah i.e. consultation enables musyawarah to be conducted, obtains views and opinions, becomes the responsibility of the people to advise and counsel the government (ad-dinu nasiha i.e. Religion is advice) and establish amar ma’ruf nahy munkar – enjoining good and forbidding evil. Among the obligations of amar ma’ruf nahy munkar is the highest jihad (struggle) that is to voice out the truth in front of the unjust tyrant.

The State of Politics in the Ummah.

The musibah or calamity of the ummah then and now is the absence and the obeying of the system of Shurah i.e. consultation and the adoption of an oppressive dynastical ruling system. In the modern era, dictators stay in power by the force of arms and gold – power and wealth resulting in the Shariah (Islamic legal system) being hindered, secularism being forced upon and cultural Westernisation were being imposed. Islamic da’wah and the Islamic movement being victimised, brutalised, imprisoned and hounded viciously.

4. Qur’anic Examples of Tyrannical Rulers

The Al-Qur’an denounces all powerful rulers such as Namrud, Fir’aun (Pharaoh), Hamaan and Qarun. Namrud is taghut – the transgressor who enslaves the servants of Allah as his serfs.

There is the pact or collaboration of three parties:

Fir’aun – he claims to be God, carries out tyranny and oppression throughout the land, enslaves the people.

Hamaan – the cunning politician, experienced, having self interest, in the service of taghut, propping up and supporting Fir’aun and cheating the people, subjugating them.

Qarun – the capitalist or feudalist who takes opportunity from the unjust and oppressive laws, spending fortunes for the tyrannical leader in order to profit and amass more vast returns, bleeding and exploiting the toils of the people. The origin of Qarun was that he came from Prophet Musa’s own clan who colluded with Fir’aun due to the love of worldly life and materialism.

The combination of taghut (tyranny) and Zulm (oppression) results in the spread of mayhem and the destruction of the community, subjugating man by force and degradation.

The People:

Al Qur’an denounces the people or citizens who are obedient and loyal to their oppressive rulers. The people who remain under the tutelage of taghut are fully responsible and accountable because it is due to their attitude that brought forth these fir’auns and taghuts.

Al-Junud (the collaborators):

These are the armies and enforcers of the rule and order of the taghut. They use force, fear and repression to eliminate and subdue all opposition and dissidents of the tyrant.

5. An Example of Leadership:

Balqis, the Queen of Saba’ (Sheeba) as told in the Qur’an was a woman who lead her people well, just and administered them with intelligence and wisdom saving her people from a war that was destructive and made decisions by Shurah i.e. consultation-consulting them. Alas, the story ended with the acceptance of Islam. She led her people towards the goodness of the world and the hereafter.

Leaders like her are much more capable and qualified with political acumen and wise administration than most of the present Arab and Muslim ‘male’ leaders. (Prof. Yusuf Qaradawi purposely avoided the term ‘al-rijal’ i.e. men)


6. Pluralism and Multi Parties in Islam

The existence of various parties or movements is not forbidden as long as unification is not achievable due to differences over objectives, approaches, understanding and the level of confidence and trust. Variety and specialisation are allowed as long as they do not become contradictory and confrontational. However everyone has to be in one united front when facing the challenges to aqidah – belief, Shariah (Islamic legal system), ummah and the survival of Islam. Relations between parties and groupings should be in the atmosphere of non-prejudice, forgiveness, nobleness, counselling truth and steadfastness, wisdom and engaging in healthy cordial debate.

Even when the Islamic State is established there is no reason to feel distraught at the existence of pluralism and differences.



7. Counselling and Corrective Participation in Politics

Without the shedding of blood, the most effective way as the outcome of long and painful struggles is the existence of political forces which the government in power is unable to contain or eliminate: that is presence of political parties. The ruling regime can get rid of individuals and small groups of opponents but it is difficult for them to defeat or wipe out larger organisations which are well structured, organised and rooted in the masses of society. Political parties have the platform, machinery, newspapers and publications as well as mass influence.

Political parties or political movements are necessary to fight oppression, to enable criticism, bringing back the government to to uphold truth and justice, bringing down or changing the government. These parties are capable of monitoring and appraising the government, offer advice and criticism.

8. Voting

Voting in the elections is a form of testimony. A just testimony is considered as long as one is not convicted of crime. Whoever so votes or abstains from voting in the general elections causing the defeat of a trustworthy and deserving candidate but on the other hand allows the candidate who is less trustworthy and undeserving to win, one has gone against the command of Allah concerning giving testimony.

Source: http://mabonline.net and http://msmonline.net/v1/?p=1777

Monday, December 20, 2010

lelaki itu cantik, wanita itu gagah

Nak tahu dimana Kecantikan Lelaki?

Kecantikan seorang lelaki bukan kepada rupa fizikal tetapi pada murni rohani. Lelaki yang cantik adalah:-

1) Lelaki yang mampu mengalirkan air mata untuk ingatan.

2) Lelaki yang sedia menerima segala teguran.

3) Lelaki yang memberi madu, setelah menerima racun.

4) Lelaki yang tenang dan lapang dada.

5) Lelaki yang sentiasa berbaik sangka.

6) Lelaki yang tak pernah putus asa.

Kecantikan lelaki berdiri di atas kemuliaan hati. Seluruh kecantikan yang ada pada Nabi Muhammad adalah kecantikan yang sempurna seorang lelaki…

Dan dimana Kegagahan Wanita?

Kegagahan seorang wanita bukan kepada pejal otot badan, tetapi pada kekuatan perasaan. Perempuan yang gagah adalah:-

1) Perempuan yang tahan menerima sebuah kehilangan.

2) Perempuan yang tidak takut pada kemiskinan.

3) Perempuan yang tabah menanggung kerinduan setelah ditinggalkan.

4) Perempuan yang tidak meminta-minta agar di penuhi segala keinginan.

Kegagahan perempuan berdiri di atas teguh iman. Seluruh kegagahan yang ada pada Khadijah adalah kegagahan sempurna bagi seorang perempuan.

~gambar header blog peribadi milik seorang sahabat, Nurun Niswah~

School of Life

"The difference between school and life are in SCHOOL, you were taught a lesson, then given a test to test your IQ, but in LIFE you are given the test first that teaches you a lesson. Test in life is one of the measure's faith or belief in God for all people"